Tuesday, September 2, 2014

Puisi Mimpi Belum usang | Fuad Erdansyah

0 comments

MIMPI BELUM USANG
Fuad Erdansyah

Bertahtalah cinta pada seujung tali
Hitam putih dingin tak berarti
Nafasmu mampu menembusnya
dari suara tipis dan lirih
Pada ujung tali yang tak tersentuh
Meski aku paham.......
Tapi sisa tidurmu belum hilang
Karena mimpi semalam juga belum usang
Kau menjemputnya....
Disimpang senja.....
Tak hilang jua.......
Pada paruh malam.....
Sepotong mimpi masih tersisa dibalik bantalmu....

Surakarta,210509


Puisi Kembang Kertas | Fuad Erdansyah

0 comments

KEMBANG KERTAS
Fuad Erdansyah

Merangkak rembulan....tepat diubun-ubun di poles awan hitam,
samar .......pungguk.....tertegun menatapnya.....
tak biasanya...
cerita malam yang baru saja kau ukir
pada lembar-lembar daun lontar yang berubah

................

meski sesaat yang bermakna...
ada cerita
tentang sekuntum kembang kertas
tak harum...tapi warnanya masih utuh
pada malam lain...
kau tanya lagi
warna itu masih yang kemarin
lebur bersama cerita
sampai kakimu lurus menatap langit-langit
titipan bunga kemarin itu masih segar aromanya.......
terikat pita halus bening hampir putus....

surakarta, 03062009


Puisi tentang Kisah | Yan Ari Wibowo

0 comments

Kisah
(untuk Ny. S dan Nenekanda)
Yan Ari Wibowo

Sudah lama ku nanti kisah tentang matahari yang menghilang malam itu,
dan bulan yang tenggelam pagi tadi,
atau hujan buatan duka derita,
siapa tau ada tawa yang mengejek tentang tidurnya seseorang,
atau kuarsa yang merasa bukan pasir.
hanya saja aku heran mengapa masih ada saja yang mengecoh arah gara - gara lupa tak bawa kompas.

(Ramadhan, Smg, Ags 2011)


Puisi Penerimaan II | Yan Ari Wibowo

0 comments

Penerimaan II
(untuk Ny S.)
Yan Ari Wibowo

Ku dengar riuh siang itu bagai di pasar,
tak kuasa hari telah reda.
aku rasa pagi tadi baru menyapa,
sempat juga ia mencuci wajah dan rambutnya.
Bias pelangi masih tetap ada,
semerbak bunga menggumpal dada,
sempat ku lihat banyak orang berjelaga jaga,
tak tau kemana larinya duka.

(Ramadhan, Smg,11 Ags 2011)


Saturday, August 16, 2014

Puisi Penerimaan I | Yan Ari Wibowo

0 comments

Penerimaan I
(Untuk Nenekanda)
Yan Ari Wibowo

Asap menggumpal menebal,
darah beku
tubuh kaku - rubuh
sejenak bangkit lupa diri serasa mimpi hidup yang di jalani,
tak cukup peluh menyuluh mata dan tubuh,
keringat menyeringai tubuh yang tak mau berbagi,
dan air mata menjadi bahasa yang penuh arti.

(Smg, 12 Okt 2009)


Puisi Indah | Tita Novela

0 comments

Indah
Tita Novela

Ketika waktu merubah masa..
mulaii menuai tua..
Malam yg sepi menjadii alasan..
Alasan masih berdiri..
Bahkan saat dingin menusuk pahit..
Jangan ragukan malam..
Dia memang kelam..hanyut dalam dingin kebekuan..
Aku tau itu..
Kita semua tau.. Hanya sajaa..
Bukankah disini ada harapan.?
Dimana kata menjadi perasaan..
Ketika kata menjadi bahagia..

Jangan salahkan malam..
Dia memang sepii didalam aku..
Semoga pagii menjelang terang..
Secepatnya.. Hingga tiada keraguan.. Dihapus terang yg bising..


Puisi Suatu Kali di Biara | Eto Kwuta

0 comments

Suatu Kali di Biara
Eto Kwuta

Kadang aku bertanya
mengapa di biara kita belajar
memberi juga ciuman

Maka kujawab sendiri:
ciuman yang menghasilkan buah
yang jatuh, di depan juga di belakang kita.
Ah, benar?

Kalau kamu bertanya
siapa yang di depan dan
siapa yang di belakang
Pasti, ada yang bilang: Yudas Iskariot.

Lalu, siapakah Yudas Iskariot?
saya atau kamu? pengkhianat atau penjahat?
mungkin keduanya benar.
tapi, jangan ceritakan ke siapa siapa.

Lihat! ada goresan di dalam
rumah itu:
Diam, ini biara.
Dilarang bicara kuat-kuat!

Nitapleat, 05/05/14


Wednesday, July 2, 2014

Puisi Teratur | Rifa’i ‘Ali

0 comments

Teratur
Rifa’i ‘Ali

Detik ke detik dijagai sep,
Tepat di saat tanda diberi,
Baru kereta masuk, berangkat,
Sekian teliti kadang pun kasep,
Bertumbuk ekspres dahsyat ngeri,
Silap sedikit besar akibat.

Sekitar kita disawang hawa,
Sejak ribuan abad yang lalu,
Berlayangan berjuta bintang.
Walau lajunya tidak terkata,
Belum terbetik sejak dahulu:
Bintang bergeser dengan bintang.

O, tuan, ahli pikiran,
Dapatkah dibenarkan:
Peralaman mati
Teratur sendiri?

Wednesday, June 11, 2014

Biografi D. Zauhidhie

0 comments

Biografi D. Zauhidhie

Nama lengkapnya, Darmansyah Zauhidhie, lahir di Muara Teweh, Kab. Barito Utara, Kalimantan Tengah pada 24 Agustus 1934. Meninggal di Kandangan, 12 Juni 1984. Pendidikan: Sekolah Administrasi Atas di Yogyakarta. Hingga meninggal, bekerja di Kantor Wilayah Departemen P dan K di kota Kandangan, Kalimantan Selatan. Karyanya tersebar di berbagai media massa lokal dan nasional. Menghadiri beberapa event sastra tingkat nasional dan ASEAN. Kumpulan puisinya: Nyala (1969), Imajinasi (1971) dan Tanah Huma (bersama Yustan Aziddin dan Hijaz Yamani, 1978). Mendapat hadiah seni atas prestasinya di bidang sastra dari Gubernur Kalimantan Selatan tahun 1974.

Puisi Di Ruang Tunggu Bandar Udara Antarbangsa "Subang"

0 comments

Di Ruang Tunggu Bandar Udara Antarbangsa "Subang", Kualalumpur Suatu Senja
Budiman S Hartojo

Sebentar aku pun terhenyak
ketika matahari mengusap hangat
kulit wajahku
"Lepaskan jaket Enchik, di sini amat panas," sambutmu
nyaring seperti suara keramahan di rumahku
(Kugenggam dendamku, kupendam rinduku
setelah lama luput dari cahaya bola matamu
yang lembut, seperti matahari mimpi
menjelang tidurnya senja hari)

Orang-orang pun mendadak tersentak
ketika butiran air tiba-tiba terjatuh
dari langit
yang mengawalku
"Inilah payung Tuan, mengapa tak jalan sama-sama?" serumu
sambil berlari kecil di belakangku
Kusurukkan kepalaku
lalu kurangkul pinggangmu
tanpa ragu
(Aku ingin melepas napas
persis di bawah lubang hidungmu)
Di sini seolah tiada lagi rindu
pada tanah air
Memang ada terasa damai di bawah payung kembangmu
(Mungkinkah aku tinggal di sini
barang sehari?)

Di ruang tunggu
tak siapa menunggu
tak siapa ditunggu
Kita duduk termangu
tak siapa kutunggu
tak siapa kautunggu
Toh terasa akrab juga pandangmu
seperti kita pernah bersahabat sejak dulu
Sebentar-sebentar engkau senyum. Mengapa
aku tak tahu. Barangkali kebiasaan beramah-ramah saja
Atau mungkin karena kautangkap gelisahku
menunggu waktu
ketika tiap sebentar kukibaskan celana
yang basah oleh hujan barusan

Di kursi empuk sudut sana itu
seorang kakek duduk tertidur
nafasnya bebas teratur
(sehat sekali tampaknya)
Cambang dan janggutnya lebat
putih, rapih -- memantulkan semangat
Meningatkan aku pada seorang dosen sejarah
di sebuah universitas swasta yang bangkrut
Bau harum asap tembakau
masih mengepul tipis dari pipa cangklong
di tangan kirinya
Dan di tangan kanannya
terkulai sebuah buku saku:

               Soekarno, A Political Biography

Tak ada suara di sini, kecuali
gumam kelompok di sudut itu
atau detak sepatumu bertumit tinggi
atau bisikmu
atau desah nafasmu
atau tawa kecilmu
yang tertahan
Toh gelisah itu mengusik juga, pabila
pengeras suara itu mengganggu
-- bergema

Maka waktu pun sampai
aku usai, engkau usai
Dan aku pun melambai
dan engkau pun melambai ...

1974

Monday, June 2, 2014

Biografi F. Rahardi

0 comments

Biografi F. Rahardi

F. Rahardi lahir di Ambarawa, 10 Juni 1950. Sempat menjalani profesi Guru di desa-desa di Jawa Tengah tahun 1968 sd 1974. Tahun 1974 dia merantau ke Jakarta dan tahun 1977 dia menjadi wartawan majalah pertanian Trubus. Pertama menulis sajak saat berusia 17 tahun. Publikasi pertama sajaknya di Majalah Semangat, Yogyakarta. Kumpulan puisinya: Soempah WTS (1983) dan Catatan Harian Sang Koruptor (1985). F. Rahardi juga menulis cerpen dan artikel, serta menulis buku-buku non fiksi yang berhubungan dengan masalah pertanian.


Puisi International Monetary Fund (IMF) | Atasi Amin

0 comments

International Monetary Fund
Atasi Amin

Ironis, IMF
Sekali tepuk
Krisis moneter

1998

Biografi B. Y. Tand

0 comments

Biografi B. Y. Tand

B. Y. Tand lahir 10 Agustus 1942 di Indrapura, Kabupaten Asahan, Sumatra Utara. Mulai menulis puisi, cerpen, kritik/esai sastra sejak tahun 1963 di berbagai Koran di Medan, juga pernah di Berita Buana, Merdeka, Horison, Basis, dan Dewan Sastra (Kuala Lumpur). Sejak 1976 bekerja sebagai Penilik Kebudayaan pada Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kec. Sir Putih, Asahan di Indrapura. Karyanya: Bunga Laut (puisi, 1977), Tangkahan (puisi, cerpen, esai, 1978), Ketika Matahari Tertidur (1979), Khatulistiwa (puisi, 1982) dan 25 Cerpen (1979).



Biografi Drs. Akhmad Tajuddin, M.Si | Tajuddin Bacco

0 comments

Biografi Drs. Akhmad Tajuddin, M.Si

Drs. Akhmad Tajuddin, M.Si atau di kalangan penyair Kalsel dikenal dengan nama A. Bacco atau Tajuddin Bacco ini lahir di desa Hayup, kecamatan Haruai, Kab. Tabalong, Kalimantan Selatan pada 13 Agustus 1958. S1 jurusan Ilmu Pemerintahan, Fisipol UGM (lulus 1992) dan S2 di Magister Ekonomi Pembangunan UGM (lulus 2002). Menulis puisi sejak 1978. Karyanya tersebar di majalah Warta Pertamina, Jakarta, SKH Banjarmasin Post, Dinamika Berita, dan RRI Nusantara III Banjarmasin. Antologi puisi bersama Duri-duri Tataba (1996), Semata Wayang Semata Sayang (1998), Puisi Potret Diri (1999). Kumpulan cerpennya: Nawu Raha ( 2002).  

Puisi Stockholm | Putu Oka Sukanta

0 comments

Stockholm
buat sofyan waluyo dan z. afif
Putu Oka Sukanta

jelas ini bukan di pendopo taman siswa
orang-orangnya bermantel tebal berbahasa jawa
di sebuah gedung di huddingen swedia
tapak kaki di langit hujan bertanya

ada dosenku, ada kawanku, ada wajah haru
yang mana pilihan
yang mana tempat buangan
yang mana tanah air
kangen embun meneteskan air

anak-anak kehilangan kampung
internasionale mengapung
rinduku rindumu
penjelajah demam dalam bertemu

Huddingen-Amsterdam, November 2000

Biografi Bambang J. Prasetya

0 comments

Biografi  Bambang J. Prasetya

Bambang Jaka  Prasetya atau kadang disingkatnya Bambang JP, lahir di Yogyakarta 28 Oktober 1965. Menyelesaikan pendidikan di Institut Seni Indonesia jurusan teater. Antologi puisinya al. Kado Buwana dan Jejak. Bekerja di TVRI stasiun Yogyakarta.

Wednesday, May 28, 2014

Puisi Tentang Rakyat | Hartoyo Andangjaya

0 comments

RAKYAT
Hartoyo Andangjaya

hadiah di hari krida
buat siswa-siswa SMA Negeri
Simpang Empat, Pasaman


jutaaan tangan yang mengayun dalam kerja
di bumi di tanah tercinta
jutaan tangan mengayun bersama
membuka hutan-hutan lalang jadi ladang-ladang berbunga
mengepulkan asap dari cerobong pabrik-pabrik di kota
menaikkan layar menebar jala
meraba kelam di tambang logam dan batubara
Rakyat ialah tangan yang bekerja

Rakyat ialah kita
otak yang menapak sepanjang jemaring angka-angka
yang selalu berkata dua adalah dua
yang bergerak di simpang siur garis niaga
Rakyat ialah otak yang menulis angka-angka

Rakyat ialah kita
beragam suara di langit tanah tercinta
suara bangsi di rumah berjenjang bertangga
suara kecapi di pegunungan jelita
suara bonang mengambang di pendapa
suara kecak di muka pura
suara tifa di hutan kebun pala
Rakyat ialah suara beraneka

Rakyat ialah kita
puisi kaya makna di wajah semesta
di darat
hari yang beringat
gunung batu berwarna coklat
di laut
angin yang menyapu kabut
awan menyimpan topan
Rakyat ialah puisi di wajah semesta

Rakyat ialah kita
darah di tubuh bangsa
debar sepanjang masa


Puisi Perempuan-Perempuan Perkasa | Hartoyo Andangjaya

0 comments

PEREMPUAN-PEREMPUAN PERKASA
Hartoyo Andangjaya

Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta, dari manakah mereka
ke stasiun kereta mereka datang dari bukit-bukit desa
sebelum peluit kereta pagi terjaga
sebelum hari bermula dalam pesta kerja

Perempuan-perempuan yang membawa bakul dalam kereta, kemanakah mereka
di atas roda-roda baja mereka berkendara
mereka berlomba dengan surya menuju gerbang kota
merebut hidup di pasar-pasar kota

Perempuan-perempuan perkasa yang membawa bakul di pagi buta, siapakah mereka
mereka ialah ibu-ibu berhati baja, perempuan-perempuan perkasa
akar-akar yang melata dari tanah perbukitan turun ke kota
mereka : cinta kasih yang bergerak menghidupi desa demi desa


Puisi Dari Seorang Guru Kepada Murid-Murid nya | Hartoyo Andangjaya

0 comments


Dari Seorang Guru Kepada Murid-Murid nya
Hartoyo Andangjaya

Adakah yang kupunya, anak-anakku
selain buku-buku dan sedikit ilmu
sumber pengabdianku kepadamu.
Kalau hari Minggu kau datang ke rumahku
aku takut, anak-anakku
kursi-kursi tua yang di sana
dan meja tulis sederhana
dan jendela-jendela yang tak pernah diganti kainnya
semua padamu akan bercerita
tentang hidupku di rumah tangga

Ah, tentang ini tak pernah aku bercerita
depan kelas, sedang menatap wajah-wajahmu remaja
horison yang selalu biru bagiku
karena kutahu, anak-anakku
engkau terlalu muda
engkau terlalu bersih dari dosa
untuk mengenal ini semua


Biografi Zeffry J. Alkatiri

0 comments

Biografi Zeffry J. Alkatiri

Zeffry J. Alkatiri lahir 30 Agustus 1960 di Jakarta. Berasal dari keluarga campuran Arab, Pakistan, dan Betawi. S1 jurusan Rusia FSUI (1987) dan S2 Kajian Wilayah Amerika UI. Profesi: Dosen di jurusan Rusia FSUI. Kumpulan puisinya: Pintu, Etalase, Batavia Centrum (1998). Adapun naskah Dari Batavia sampai Jakarta 1619-1999 (2001) meraih penghargaan pertama dalam Sayembara Kumpulan Puisi Terbaik tahun 1998-2000 yang diselenggarakan oleh PKJ-TIM.


Loading

Random Posts

 

kumpulan karya Puisi | Copyright 2010 -1014 Karya Puisi |