Tuesday, June 18, 2013

Puisi Spesial Untuk Umi | Isma Alniezar

0 comments

Spesial Untuk Umi
Isma Alniezar

Darah mengalir dari tubuhmu…
Keringat mengujur membasahi tubuhmu…
Jeritan keluar dari mulutmu…
Kesakitan…
Perih…
Bahkan deraian airmata
Tak menjadi beban bagi dirimu

Engkau tetap tegar
Engkau berjuang sendiri
Engkau mempertaruhkan nyawamu sendiri…
Antara hidup dan mati
Untuk melahirkan generasi baru nanti

Bukan generasi Penerus korupsi
Bukan generasi Penerus kelicikan
Bukan generasi para pendendam
Bukan generasi Penerus kemunafikan
Bukan generasi Penerus kekerasan terhadap wanita
Bukan generasi Penerus penindasan terhadap buruh kerja
Tapi…
Generasi baru…
Generasi baru penumpas korupsi, pendendam, kemunafikan
Dan generasi baru yang menghentikan tindak kekerasan
Terhadap wanita, terhadap Kartini-Kartini masa kini

Tersenyumlah duhai kau Ibu Kartiniku
Jangan menangis lagi
Karena ibuku adalah Kartini masa kini

Sabtu malam minggu, 04 mei 2013


Puisi Pelabuhan "Untuk Mu... Pelabuhan Impian Ku..." | Selia Hermawati

0 comments

Pelabuhan
Selia Hermawati

Saat hati ini tersentuh...
Terkikis...
Dan akhirnya terjatuh....
Bangkit, hanyalah sebuah dongeng dari cerita cinta yang telah merajalela...
Aku bukanlah seseorang itu....

Dirimu adalah sosok terpadu pengisi kalbu...
Terintegrasi bersama kekosongan kisah dimasa laluku...
Kesempurnaan hanyalah sebuah keajaiban bagi masa muda ku...

Penderitaan dimasalaluku...
Tak mengizinkan ku untuk sedikitpun terpoles kesempurnaan itu...
Aku adalah aku...
Itulah aku...
Dan Kamu... telah menjadi dirimu..

Pelabuhan ini tak menjadi milikku.. dan itu adalah kamu...
Tapi kapal itu... adalah milikku.. dan akan terus mengarungi laut biru meski tak bertemu tempat tuk berlabuh...
Karena terombang ambing di lautan biru adalah kisah hidupku... meski tanpa dirimu...

Yang kokoh dan menjadi tempat berlabuh bagi kapal-kapal selain diriku...

Untuk mu “sang pembalap”

Bogor, 5 Juni 2013


Puisi Dunia Anak Jalanan | Mufti Ulya

0 comments

Dunia Anak Jalanan
Mufti Ulya

Duniaku yang begitu indah
Dunia yang tak ada beban
Tak ada beban dalam hidup
Yang ada canda tawa manis
Duniaku….
Kini kau tinggal cerita
Cerita manis yang tak pernah nyata
Tak ada lagi dunia untukku bermain
Melepas canda tawaku

Kini ku harus bekerja
Melawan panasnya matahari
Menembus dinginnya hujan
Tuk sepeser rupiah
Tuk bunda tercinta

Kudus,30 Mei 2013


Puisi Kilad Rindu | Aradin Sutriyono

0 comments

Kilad Rindu
Aradin Sutriyono

Kasih..kaulah yang merawat ketika hatiku luka
Kau yang memanjakan jiwaku ketika aku tak sempurna
Ketika aku duka dalam kegelisahan kau jadi penenangku
Kau yang selalu merajut keluh kesah hatiku

Gejolah hatiku tak menentu ketika rinduku menanti
Tetaplah kau dihatiku walau kini kau jauh
Dari gelapnya angan gelisahmu kan ku hampiri
Saat hatiku juga merasa sepi....

Kilad rinduku bersamamu
Terjawab ketika tergoncang angan
Walau warna hati beribu kata
Kaulah masih tetap yang pertama di hatiku

Libra/ARS. 29/5/2013


Thursday, May 30, 2013

Wiranto: Zainal Pandai Berpuisi Bertema Kehidupan, Cinta & Kematian

1 comments

Zainal Nur Rizki
Zainal Nur Rizki - dok Hanura
Jakarta - Zainal Nur Rizki (23) putra bungsu Wiranto yang meninggal karena sakit di Afrika Selatan ternyata pandai berpuisi. Wiranto sendiri baru mengetahui anaknya pandai puisi setelah ditemukan kumpulan puisi milik anaknya tersebut.

"Saya baru tahu ananda (Zainal) pandai membuat puisi setelah wafat," ujar Wiranto di kediamannya Komplek Pati Angkatan Darat, Jl Palem Kartika No 21, Bambu Apus, Jaktim, Rabu (29/5/2013).

Wiranto mengatakan, kumpulan puisi tersebut ditemukan oleh sang kakak di laptop Zainal. Puisi-puisi tersebut bertema kehidupan.

"Ada banyak puisi tentang kehidupan. Salah satunya tentang cinta dan kematian, perpisahan, dan renungan dirinya," paparnya.

Zainal Nur Rizki (23) meninggal di Johanesburg, Afrika Selatan karena sakit. Di Afrika Selatan, Zainal sedang menimba ilmu di Perguruan Tinggi Ilmu Agama Islam Darul Uloom Zakariyya. Zaenal adalah putra bungsu Wiranto. Saat ini jenazah Zainal Nur Rizki telah dimakamkan di pemakaman umum muslim di LENAsia Johanesburg, Afrika Selatan.

sumber 

Wednesday, May 29, 2013

Puisi Kapan | Arman Yuli Prasetya

0 comments

Kapan
Arman Yuli Prasetya

Bopeng tubuh ini
Tersusun remuk perjalanan
Sepintas ingin mendahului waktu
Waktu yang sama
Angin masih di kenal menjadi angin
Menyegarkan kadang-kadang menaburkan topan
Menerka kapan dan dimana
Sekian lama waktu menjadi tua
Atau mungkin belum seberapa

Bojonegoro, Januari 2013


Puisi Menanak Ubi di Gazebo | Arman Yuli Prasetya

0 comments

Menanak Ubi di Gazebo
Arman Yuli Prasetya

Mampat bengawan yang pekat
Deras meluap gorong-gorong tersumbat
Kanal kokoh tak mampu membedah
Luber bah tawa riang anak-anak
Tersekat parau kumal
Terjang perahu tak terbendung
Rintik hujan menari-nari bertebaran
Denyar jentikan piano
Reda romansa sketsa ilusi
Bau parfum pada ketiak-ketiak
Wangi seantero gedung
Gedung bioskop, Auditorium, Gelangaang
Pertunjukan sana-sini
Percikan debu menebar api
Mari kita nikmati
Anda yang perlu merasakan
Palapa gajah mada
Mengiggau durna
Panah-panah arjuna
Bertebaran tebar
Gatot kaca terbang
Petani bercocok tanam
Bentang jagad pewayangan
Jagad raya, jagadnya jagad

Bojonegoro, Januari 2013


Puisi Kursi dan Lubang kehangatan | Arman Yuli Prasetya

0 comments

Kursi dan Lubang kehangatan
Arman Yuli Prasetya

Aliran pacuan yang mengantarkan
Beriringan dengan berbagai laju kecepatan
Merambat, berhenti, berbelok lalu berjalan
Di antara, rambu, lubang dan persimpangan
Berjumpa pohon-pohon ditepian
Sejajar dengan sungai lalu menghilang
Semburat keramian berduyung-duyung
Atau saat sepi yang sendiri
Masa panas yang menghanguskan

Matahari jelas tanpa pernah jelas
Dengan sedikit taburan hujan dan hembusan angin
Melukis menguraikan warna-warninya
Itu menjadi soal tak penting bagi semua kegaduhan
Tentang kursi yang di pentaskan
Atau lubang kehangatan yang penuh keramian

Pengetahuan mementaskan akal manusia
Di perah untuk berartinya kehidupan
Lalu semua yang terlupakan berceceran ditepian jalan
Memuja hasrat dan keangkuhan
Mengartikan kebebasan tanpa keseimbangan
Memang benar sekarang itu nafasmu
Warnailah hembuskanlah sesukamu
Gunung-gunung seperti pertapa yang diam
Tapi arakan awan tau dia berjalan

Bojonegoro, Januari 2013


Tuesday, May 28, 2013

Puisi Pulang | Arman Yuli Prasetya

0 comments

Pulang
Arman Yuli Prasetya

Awan bergumul bergulung di arak angin
Berkumpul terkumpul hitam pekat menggantung
Gunung seperti marka yang mengunci tanah
Tanah yang hijau tanah yang kering menengadah
Hingga terdengar gemuruh  luruh
Sesaat jeda muncul kilat-kilat bercahaya
Saling melepas dan menerima gemuruh dan kilat berpadu
Guntur menggelegar memecah gumpalan awan yang bergulung
Dan langit melihat derai-derai air yang turun
Bintang-bintang berkedip saling mengamati
Meretas daun-daun mewangikan kering kerontang
Gurun-gurun dipenuhi pasir dan hawa panas
Saat matahari menyala pada kala
Menghidupi kaktus yang berduri
Membelaikan angin menyimpan sepi
Dan renik pasir itu menjadi dingin yang gigil
Saat malam menyapu pandangan
Kesahduan yang menerima dengan nurani
Lalu muncul titik-titik cahaya dari bintang
Meronanya bulan menimbulkan pasang laut
Dengan debur ombaknya nelayan merindukan ikan
Menebarkan jala memasang umpan pada mata kail
Menyemaikan tungku menghangatkan tanak
Kayu-kayu yang terkumpul dari ranting semak belukar
Memindai api dari titik panas dan cahaya
Semu tersadar kenyataan yang tergali
Padi-padi yang tumbuh dari sawah-sawah hijau
Dan jagung-jagung mulai menguning pada ladang-ladang
Gembala menyanyi tentang kupu-kupu
Capung di antara sapi dan kerbau
Pada hamparan sabana rumput-rumput liar nan terjaga
Di dekatnya sungai mengalir
Panjang berkelok menyusuri waktu dan sejarah
Tentang masa kecil yang dekil
Telah sampai pada masa tua nan purna
Seperti dentuman yang menggelegar
Menguraikan untuk kehidupan
Menggelar untuk terbaca
Meluangkan masa untuk akal
Yang tercecer pada pelepah-pelepah daun
Terukir pada tulang-tulang
Hingga pada waktunya angin menjadi angin
Segala penciptaan telah diciptakan
Dengan kilatan cahaya semua saling menjauh
Menuntun untuk saling mendekat dan dekat
Saling menabrak dan beradu
Lenyaplah segala fatamorgana
Menyangka hasil dari kepunyaan mereka
Dan aku hanya debu dari sekian bintang bertebaran
Yang merindukan jalan untuk pulang

Bojonegoro, Januari 2013


Puisi Tentang Perpisahan | Dewi Amalia Rahayu

0 comments

Perpisahan
Dewi Amalia Rahayu

Aku tau kau pasti datang
menghilangkan semua yang pernah ku rasakan
Tapi semua itu adalah takdir

Hanya tuhan yang bisa memisahkan kita
Dan tuhan pula
Yang bisa mempersatukan kita
Aku akan selalu mengingatmu

Mei 2013


Puisi Mengharap Iba | Siti Aisyah

0 comments

Mengharap Iba
Siti Aisyah

Saat mentari bangkit menyambut pagi
Di sudut jalanan itu ia tetap sendiri
Diterpa debu dan asap kendaraan tak peduli
Mengharap belas kasihan bukan mencuri
Hanya terduduk dan merunduk minta dikasihani
Berharap untuk sesuap nasi
Satu persatu terkadang menghampiri
Walau begitu teriknya sinar mentari
Ia selalu berharap Tuhan memberinya rejeki
Supaya tak kelaparan anak dan istri
Hingga malam pun bertepi
Belum juga ia beranjak pergi

Jakarta, 25 mei 2013


Puisi Mengingatmu Ayah | Siti Aisyah

0 comments

Mengingatmu Ayah
Siti Aisyah

Waktu sudah terlampau begitu malam
Mataku enggan memasuki alam bawah sadarku
Tak ubahnya seperti malam-malam
Ketika aku mengingatmu
Hal ini selalu terulang
Hanya butiran-butiran air ini
Yang dapat menggambarkan
Betapa besar kerinduanku terhadapmu
Jika Tuhan memberikanku petunjuk keberadaanmu
Aku akan menggapai tempat itu
Membiarkan rasa rindu terhadap orang
Yang sangat berarti dalam hidup
Adalah hal yang sangat menyakitkan
Aku pernah tertusuk duri
Tergores luka yang menyakitkan
Semua itu tak ada artinya di bandingkan dengan
Rasa rindu yang bertahun-tahun terus terpendam dalam hati
Entah kapan datang penyembuh lukaku
Tak mau yang lain
Dan tak ada orang lain
Hanya dirimu ayahandaku

Jakarta, 17 juni 2012
pukul 01:08


Puisi Rangga | Ida Kurnia Putri

0 comments

Rangga
Ida Kurnia Putri

sebaris nama yang tak habis di kata
ribuan kata yang tak bisa di sapa
hanya rasa yang hidup dalam kata yang tak nyata
senyum manis yang tlah tiada di mata
..,
sebuah nama yang mampu berikan goresan warna
harapan.,.,sekaligus keputusasaan,.,.,
kebahagiaan dan juga kesedihan
pelangi dan hitam putih kehidupan.
Dia,,Rangga!

Pasuruan,24 mei 2013


Puisi Cinta Sepihak | Ainun Jariah

0 comments

Cinta Sepihak   
Ainun Jariah

Mencintaimu seperti teriris Belati tajam
Sakit namun tak pernah kau lihat
Jika ku menengok kekanan sedikit
Disitu ada aku yang menunggu dengan kedua bola mata yang tak berkedip jika melihat mu
Namun...sedikitpun kau tak menoleh
Karena memang tak bisa kau rasakan

Hari ini hati ku menangis hebat
saat kau beri senyummu untuk dia
namun kau tak pernah kau tahu itu

Sekarang Aku akan melangkah
Satu langkah kedepan dari langkahmu
Takkan kulihat kau di belakang
Aku akan melangkah jauh melupakan
Semua hal tentang mu

Dan aku takkan mencintaimu lagi
Ini mungkin sesuatu hal tersulit yang belum tentu aku lakukan]
Namun apa yang terjadi....
Disaat aku melangkah jauh meninggalkan cerita tentang mu
Kau berlari mengejar Memeluk ku
Tatapan mu menahan ku

Hanya terdiam diselimuti dengan dua pilihan
Seperti lampu redup......
Yang cahayanya apakah ingin mati ataukah tetap bercahaya
Menyinari ruang kosong kehidupan mu
Mernunggu sinar keluar dari lubuk hatimu
Hingga cahaya dan sinarmu menyatu dalam sebuah ikatan

Aku semakin tak mampu tuk melupakanmu
Kau sulit ku pahami
Namun satu yang kutahu
Ada sinar disana tetapi tertutup awanmu

Mei 2013


Friday, May 24, 2013

Puisi Itu Dia | Agirl Subarkah

0 comments

Itu Dia
Agirl Subarkah

kering kerontang tubuhnya
kerutan keriput wajahnya
mengantarkan asa kita bertiga
tak tega ku melihatnya
melihat wajah kusam didepan jendela
sesosok indah penuh derita
pucat pasi wajahnya
memikul beban dipunggungnya
bukan uang
atau barang
tetapi seorang pecundang
yang terus menyakitinya
kasihan dia
semua sia sia
dia telah terluka
banyak luka
tergores dalam ceritanya


Puisi Tentang Relawan | Ilmi Nurin

0 comments

RELAWAN
Ilmi Nurin

Duarrrrr…….
Gunung meletus terdengar dahsyat
Debu- debu bertaburan
gas beracunpun ada di sana
Dimana –mana banyak korban jiwa
Hati nurani terketuk untuk jadi relawan
Menolong saudaraku yang terkena bencana
Sedih rasanya melihat mereka
Tapi ku tak patah semangat membantu
Karena aku bagian dari mereka

Tegal, 20 Mei 2013


Puisi Di Jedah Nafas-Mu, Aku | Eto Kwuta

0 comments

Di Jedah Nafas-Mu, Aku
Eto Kwuta

Di jedah nafas-Mu, aku tersentak
dan senja ini membentang kepak.
Lalu Engkau tertunduk tiada mengajak
melukis kayu yang tak lagi tegak.

Tuhan.......
Aku tersentak,
malu menanam hati pada puncak retak.
Sembari kuberpijak,
menatap-Mu memeluk diam tanpa sajak.

Tuhan.......
Kini di jedah bisu-Mu, kupeluk
dalamnya duka Golgota.
Dan kebenaran hanyalah seteguk
Lalu tumpah pada akhir cerita.

Tuhan....
Aku buta.
Sehabis terhempas dangkalnya cita-cita.
Mungkin sampai senja berlalu
berlari menepis malam hingga pagi
bercerita.
Aku tetap buta.
Terperangkap kebutaan mencinta.
Di sini masih kujumpai Golgota
bercerita tentang cinta dalam derita.

Tuhan......
Aku gemetar.
Pada hidup yang berputar berujung duka.
dan tanya apa itu kebenaran tak mampu kukata

Tuhan ......
Di jedah nafas-Mu, kutengadah
menyapa diri yang payah
susah
sepi

Tuhan....
Panggil aku
Panggil aku debu pada kaca
Panggil aku kayu pada abu
Ternyata aku sampah

Tuhan....
Di jedah nafas-Mu, kuberkisah
"Ternyata cinta itu murah, tapi
mencinta itu tidaklah murah."

St . Mikael-Ledalero, 15/03/12


Tuesday, May 21, 2013

Puisi Akar diri | Arman Yuli Prasetya

0 comments

Akar diri
Arman Yuli Prasetya

Sepanjang aspal berlubang mengantarkanku pada kampung-kampung kecil dalam peta kota. Di temani riak bangunan kehidupan menyuguhkan nuansa diantara suara – suara manusia.

Tentang hamparan padi hijau berayun saat hembusan angin melukiskan warna harapan pada lembaran hari panjang. Detak jam menumbuhkan kesabaran siang dan malam.

Aliran bengawan lentera dari jiwa sebuah nama yang terukir pada lembaran daun jati. Melayang diterpa angin kemerau saat ladang jagung menguning memanen kesederhanaan dari ketegaran butir-butir keringat.

Doa doa merambati hati saat malam mulai sepi dingin angin menyapa belulang tulang. Di tepi bengawan tanah liat kami kais bersama Lumpur sedari pagi. Embun mulai tumbuh saat kami nyalakan api membakar ranting – ranting kayu berbaur dengan laju waktu.

Fajar pagi memadamkan nyala api. Kayu – kayu berubah jadi abu. Menelurkan batu bata dari rahim bengawan . Menyemaikan harapan kampung bengawan. Mekarlah melati  pada petilasan akar diri.


Talun, Desember 2012


Puisi Isyarat Yang Bersujud | Ogenk Hatake

0 comments

Isyarat Yang Bersujud
Ogenk Hatake

Duluai... Duluai... Duluai...
Duluai...Duluai...Duluai...

Wahai kau penunggu kemarau
Dengan kesaksian jarum jam
Impianmu pun terlempar
Sampai ke altar yang kian memudar
Dan usiamupun tersamar

Sesekali merenungi usaha
Yang keinginan semakin menyapu

Kepala tak henti berfikir dan
Hatipun serasa tersingkir

Mei 2013


Puisi Makkundrai dan Meja Tua | Ogenk Hatake

0 comments

Makkundrai dan Meja Tua
Ogenk Hatake

Terangkul inspirasi menuju cerita
Dengan modalkan dudukan kaki empat dan sandaran setengah bahu yang tak pernah hendak menunggu kopiku berlabu.
Mengapa ?
Sebab, mejaku belum ada.
Di samping terlihat,
Meja tua paket perempuan seraya menuntutku untuk mengangkat kursiku dan duduk di depannya.
Tak sangka
Dia bertanya : Hauskah ?
Aku jawab : Yah, aku ingin secangkir kopi
Buatlah dengan gula yang tak semua melarut
Sebab kelak kau bertanya, maka sempurnahlah kenikmatan
Dengan separuh adukan gula yang kau tuang, berputar dalam ruang dan waktu,
Gula melarut air memanis
Pada meja tua ini
Aku mencatat hal-hal menjadi sebuah cerita
Taukah kau
Meja tua menuliskan
Sewaktu-waktu kita akan singgah
Untuk lanjutkan cerita
Yang tak lagi basah
Maaf, aku tak habiskan kopi
Sebab nanti
Akun akan kembali
Di sini,
Di meja tua ini

Mei 2013


Loading

Random Posts

 

kumpulan karya Puisi | Copyright 2010 -1013 Karya Puisi |