Wednesday, July 2, 2014

Puisi Teratur | Rifa’i ‘Ali

0 comments

Teratur
Rifa’i ‘Ali

Detik ke detik dijagai sep,
Tepat di saat tanda diberi,
Baru kereta masuk, berangkat,
Sekian teliti kadang pun kasep,
Bertumbuk ekspres dahsyat ngeri,
Silap sedikit besar akibat.

Sekitar kita disawang hawa,
Sejak ribuan abad yang lalu,
Berlayangan berjuta bintang.
Walau lajunya tidak terkata,
Belum terbetik sejak dahulu:
Bintang bergeser dengan bintang.

O, tuan, ahli pikiran,
Dapatkah dibenarkan:
Peralaman mati
Teratur sendiri?

Wednesday, June 11, 2014

Biografi D. Zauhidhie

0 comments

Biografi D. Zauhidhie

Nama lengkapnya, Darmansyah Zauhidhie, lahir di Muara Teweh, Kab. Barito Utara, Kalimantan Tengah pada 24 Agustus 1934. Meninggal di Kandangan, 12 Juni 1984. Pendidikan: Sekolah Administrasi Atas di Yogyakarta. Hingga meninggal, bekerja di Kantor Wilayah Departemen P dan K di kota Kandangan, Kalimantan Selatan. Karyanya tersebar di berbagai media massa lokal dan nasional. Menghadiri beberapa event sastra tingkat nasional dan ASEAN. Kumpulan puisinya: Nyala (1969), Imajinasi (1971) dan Tanah Huma (bersama Yustan Aziddin dan Hijaz Yamani, 1978). Mendapat hadiah seni atas prestasinya di bidang sastra dari Gubernur Kalimantan Selatan tahun 1974.

Puisi Di Ruang Tunggu Bandar Udara Antarbangsa "Subang"

0 comments

Di Ruang Tunggu Bandar Udara Antarbangsa "Subang", Kualalumpur Suatu Senja
Budiman S Hartojo

Sebentar aku pun terhenyak
ketika matahari mengusap hangat
kulit wajahku
"Lepaskan jaket Enchik, di sini amat panas," sambutmu
nyaring seperti suara keramahan di rumahku
(Kugenggam dendamku, kupendam rinduku
setelah lama luput dari cahaya bola matamu
yang lembut, seperti matahari mimpi
menjelang tidurnya senja hari)

Orang-orang pun mendadak tersentak
ketika butiran air tiba-tiba terjatuh
dari langit
yang mengawalku
"Inilah payung Tuan, mengapa tak jalan sama-sama?" serumu
sambil berlari kecil di belakangku
Kusurukkan kepalaku
lalu kurangkul pinggangmu
tanpa ragu
(Aku ingin melepas napas
persis di bawah lubang hidungmu)
Di sini seolah tiada lagi rindu
pada tanah air
Memang ada terasa damai di bawah payung kembangmu
(Mungkinkah aku tinggal di sini
barang sehari?)

Di ruang tunggu
tak siapa menunggu
tak siapa ditunggu
Kita duduk termangu
tak siapa kutunggu
tak siapa kautunggu
Toh terasa akrab juga pandangmu
seperti kita pernah bersahabat sejak dulu
Sebentar-sebentar engkau senyum. Mengapa
aku tak tahu. Barangkali kebiasaan beramah-ramah saja
Atau mungkin karena kautangkap gelisahku
menunggu waktu
ketika tiap sebentar kukibaskan celana
yang basah oleh hujan barusan

Di kursi empuk sudut sana itu
seorang kakek duduk tertidur
nafasnya bebas teratur
(sehat sekali tampaknya)
Cambang dan janggutnya lebat
putih, rapih -- memantulkan semangat
Meningatkan aku pada seorang dosen sejarah
di sebuah universitas swasta yang bangkrut
Bau harum asap tembakau
masih mengepul tipis dari pipa cangklong
di tangan kirinya
Dan di tangan kanannya
terkulai sebuah buku saku:

               Soekarno, A Political Biography

Tak ada suara di sini, kecuali
gumam kelompok di sudut itu
atau detak sepatumu bertumit tinggi
atau bisikmu
atau desah nafasmu
atau tawa kecilmu
yang tertahan
Toh gelisah itu mengusik juga, pabila
pengeras suara itu mengganggu
-- bergema

Maka waktu pun sampai
aku usai, engkau usai
Dan aku pun melambai
dan engkau pun melambai ...

1974

Monday, June 2, 2014

Biografi F. Rahardi

0 comments

Biografi F. Rahardi

F. Rahardi lahir di Ambarawa, 10 Juni 1950. Sempat menjalani profesi Guru di desa-desa di Jawa Tengah tahun 1968 sd 1974. Tahun 1974 dia merantau ke Jakarta dan tahun 1977 dia menjadi wartawan majalah pertanian Trubus. Pertama menulis sajak saat berusia 17 tahun. Publikasi pertama sajaknya di Majalah Semangat, Yogyakarta. Kumpulan puisinya: Soempah WTS (1983) dan Catatan Harian Sang Koruptor (1985). F. Rahardi juga menulis cerpen dan artikel, serta menulis buku-buku non fiksi yang berhubungan dengan masalah pertanian.


Puisi International Monetary Fund (IMF) | Atasi Amin

0 comments

International Monetary Fund
Atasi Amin

Ironis, IMF
Sekali tepuk
Krisis moneter

1998

Biografi B. Y. Tand

0 comments

Biografi B. Y. Tand

B. Y. Tand lahir 10 Agustus 1942 di Indrapura, Kabupaten Asahan, Sumatra Utara. Mulai menulis puisi, cerpen, kritik/esai sastra sejak tahun 1963 di berbagai Koran di Medan, juga pernah di Berita Buana, Merdeka, Horison, Basis, dan Dewan Sastra (Kuala Lumpur). Sejak 1976 bekerja sebagai Penilik Kebudayaan pada Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kec. Sir Putih, Asahan di Indrapura. Karyanya: Bunga Laut (puisi, 1977), Tangkahan (puisi, cerpen, esai, 1978), Ketika Matahari Tertidur (1979), Khatulistiwa (puisi, 1982) dan 25 Cerpen (1979).



Biografi Drs. Akhmad Tajuddin, M.Si | Tajuddin Bacco

0 comments

Biografi Drs. Akhmad Tajuddin, M.Si

Drs. Akhmad Tajuddin, M.Si atau di kalangan penyair Kalsel dikenal dengan nama A. Bacco atau Tajuddin Bacco ini lahir di desa Hayup, kecamatan Haruai, Kab. Tabalong, Kalimantan Selatan pada 13 Agustus 1958. S1 jurusan Ilmu Pemerintahan, Fisipol UGM (lulus 1992) dan S2 di Magister Ekonomi Pembangunan UGM (lulus 2002). Menulis puisi sejak 1978. Karyanya tersebar di majalah Warta Pertamina, Jakarta, SKH Banjarmasin Post, Dinamika Berita, dan RRI Nusantara III Banjarmasin. Antologi puisi bersama Duri-duri Tataba (1996), Semata Wayang Semata Sayang (1998), Puisi Potret Diri (1999). Kumpulan cerpennya: Nawu Raha ( 2002).  

Puisi Stockholm | Putu Oka Sukanta

0 comments

Stockholm
buat sofyan waluyo dan z. afif
Putu Oka Sukanta

jelas ini bukan di pendopo taman siswa
orang-orangnya bermantel tebal berbahasa jawa
di sebuah gedung di huddingen swedia
tapak kaki di langit hujan bertanya

ada dosenku, ada kawanku, ada wajah haru
yang mana pilihan
yang mana tempat buangan
yang mana tanah air
kangen embun meneteskan air

anak-anak kehilangan kampung
internasionale mengapung
rinduku rindumu
penjelajah demam dalam bertemu

Huddingen-Amsterdam, November 2000

Biografi Bambang J. Prasetya

0 comments

Biografi  Bambang J. Prasetya

Bambang Jaka  Prasetya atau kadang disingkatnya Bambang JP, lahir di Yogyakarta 28 Oktober 1965. Menyelesaikan pendidikan di Institut Seni Indonesia jurusan teater. Antologi puisinya al. Kado Buwana dan Jejak. Bekerja di TVRI stasiun Yogyakarta.

Wednesday, May 28, 2014

Puisi Tentang Rakyat | Hartoyo Andangjaya

0 comments

RAKYAT
Hartoyo Andangjaya

hadiah di hari krida
buat siswa-siswa SMA Negeri
Simpang Empat, Pasaman


jutaaan tangan yang mengayun dalam kerja
di bumi di tanah tercinta
jutaan tangan mengayun bersama
membuka hutan-hutan lalang jadi ladang-ladang berbunga
mengepulkan asap dari cerobong pabrik-pabrik di kota
menaikkan layar menebar jala
meraba kelam di tambang logam dan batubara
Rakyat ialah tangan yang bekerja

Rakyat ialah kita
otak yang menapak sepanjang jemaring angka-angka
yang selalu berkata dua adalah dua
yang bergerak di simpang siur garis niaga
Rakyat ialah otak yang menulis angka-angka

Rakyat ialah kita
beragam suara di langit tanah tercinta
suara bangsi di rumah berjenjang bertangga
suara kecapi di pegunungan jelita
suara bonang mengambang di pendapa
suara kecak di muka pura
suara tifa di hutan kebun pala
Rakyat ialah suara beraneka

Rakyat ialah kita
puisi kaya makna di wajah semesta
di darat
hari yang beringat
gunung batu berwarna coklat
di laut
angin yang menyapu kabut
awan menyimpan topan
Rakyat ialah puisi di wajah semesta

Rakyat ialah kita
darah di tubuh bangsa
debar sepanjang masa


Puisi Perempuan-Perempuan Perkasa | Hartoyo Andangjaya

0 comments

PEREMPUAN-PEREMPUAN PERKASA
Hartoyo Andangjaya

Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta, dari manakah mereka
ke stasiun kereta mereka datang dari bukit-bukit desa
sebelum peluit kereta pagi terjaga
sebelum hari bermula dalam pesta kerja

Perempuan-perempuan yang membawa bakul dalam kereta, kemanakah mereka
di atas roda-roda baja mereka berkendara
mereka berlomba dengan surya menuju gerbang kota
merebut hidup di pasar-pasar kota

Perempuan-perempuan perkasa yang membawa bakul di pagi buta, siapakah mereka
mereka ialah ibu-ibu berhati baja, perempuan-perempuan perkasa
akar-akar yang melata dari tanah perbukitan turun ke kota
mereka : cinta kasih yang bergerak menghidupi desa demi desa


Puisi Dari Seorang Guru Kepada Murid-Murid nya | Hartoyo Andangjaya

0 comments


Dari Seorang Guru Kepada Murid-Murid nya
Hartoyo Andangjaya

Adakah yang kupunya, anak-anakku
selain buku-buku dan sedikit ilmu
sumber pengabdianku kepadamu.
Kalau hari Minggu kau datang ke rumahku
aku takut, anak-anakku
kursi-kursi tua yang di sana
dan meja tulis sederhana
dan jendela-jendela yang tak pernah diganti kainnya
semua padamu akan bercerita
tentang hidupku di rumah tangga

Ah, tentang ini tak pernah aku bercerita
depan kelas, sedang menatap wajah-wajahmu remaja
horison yang selalu biru bagiku
karena kutahu, anak-anakku
engkau terlalu muda
engkau terlalu bersih dari dosa
untuk mengenal ini semua


Biografi Zeffry J. Alkatiri

0 comments

Biografi Zeffry J. Alkatiri

Zeffry J. Alkatiri lahir 30 Agustus 1960 di Jakarta. Berasal dari keluarga campuran Arab, Pakistan, dan Betawi. S1 jurusan Rusia FSUI (1987) dan S2 Kajian Wilayah Amerika UI. Profesi: Dosen di jurusan Rusia FSUI. Kumpulan puisinya: Pintu, Etalase, Batavia Centrum (1998). Adapun naskah Dari Batavia sampai Jakarta 1619-1999 (2001) meraih penghargaan pertama dalam Sayembara Kumpulan Puisi Terbaik tahun 1998-2000 yang diselenggarakan oleh PKJ-TIM.


Biografi Moh. Wan Anwar

0 comments



Biografi Moh. Wan Anwar

Moh.Wan Anwar, lahir di Cianjur, tahun 1970. Kuliah di Bandung dan Jakarta, tinggal di Serang. Bersama kawan-kawannya mendirikan Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS) IKIP Bandung tahun 1991. Puisi, cerpen, dan eseinya dimuatkan di sejumlah koran dan majalah, antara lain: Pikiran Rakyat, Mitra Budaya, Bandung Pos, Suara Merdeka, Kompas, Republika, Media Indonesia, Suara Karya, Koran Tempo, Jurnal Puisi, dan Majalah Horison. Buku yang ditulisnya: Sebelum Senja Selesai (2002), Sepasang Maut (2004), Kuntowijoyo dan Dunianya (akan terbit pertengahan 2006), dan Batas Kesetiaan (manuskrip siap terbit). Lulusan S-2 Ilmu Sastra UI ini sehari-hari mengajar di FKIP Univ. Negeri Sultan Ageng Tirtayasa dan sebagai redaktur majalah Horison.Penyair ini telah tutup usia karena menderita sakit ginjal.


Biografi Slamet Sukirnanto

0 comments



Biografi Slamet Sukirnanto

Slamet Sukirnanto lahir di Solo, 3 Maret 1941. putra pelukis R. Goenadi. Pendidikannya di jurusan Sejarah Asia Tenggara Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Dikenal juga sebagai tokoh demonstran 1966, menjadi Keuta Presidium KAMI pusat (1966-hingga bubar), anggota DPRGR/MPRS (1967-1971) mewakili mahasiswa. Tahun 1973 menjadi redaktur harian Sinar Harapan. Kumpulan puisinya: Kidung Putih (1967), Jaket Kuning (1967), Gema Otak Terbanting (1974), dan Bunga Batu (1979).



Monday, May 26, 2014

Biografi Sutan Takdir Alisjahbana

0 comments






Biografi Sutan Takdir Alisjahbana 

Sutan Takdir Alisjahbana lahir di Natal, Sumatera Utara, 11 Februari 1908 – meninggal di Jakarta, 17 Juli 1994 pada umur 86 tahun), merupakan tokoh pembaharu, sastrawan, dan ahli tata Bahasa Indonesia. Buku-bukunya antara lain: Tak Putus Dirundung Malang (novel, 1929), Dian Tak Kunjung Padam (novel, 1932), Tebaran Mega (kumpulan sajak, 1935), Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia (1936), Layar Terkembang (novel, 1936), Anak Perawan di Sarang Penyamun (novel, 1940), Kebangkitan Puisi Baru Indonesia (kumpulan esai, 1969), Grotta Azzura (novel tiga jilid, 1970 & 1971), Lagu Pemacu Ombak (kumpulan sajak, 1978), Amir Hamzah Penyair Besar antara Dua Zaman dan Uraian http://www.karyapuisi.com/2014/02/puisi-perempuan-slamet-sukirnanto.html Sunyi (1978), Kalah dan Menang (novel, 1978), Perempuan di Persimpangan Zaman (kumpulan sajak, 1985), Seni dan Sastra di Tengah-Tengah Pergolakan Masyarakat dan Kebudayaan (1985), Sajak-Sajak dan Renungan (1987).



Biografi H.B. Jassin | Hans Bague Jassin

0 comments


Biografi H.B. Jassin

Hans Bague Jassin, atau lebih sering disingkat menjadi H.B. Jassin, lahir di Gorontalo, Sulawesi Utara, pada 31 Juli 1917. Karya yang telah diterbitkan Angkatan 45 (1945), Tifa penyair dan daerahnya (1952), Kesusastraaan Indonesia Modern dalam kritik dan esai I-IV (1954 & 1967), Heboh Sastra 1968: Suatu Pertanggungjawab (1970), Sastra Indonesia sebagai Warga Sastra Dunia (1983), Pengarang Indonesia dan Dunianya (1983), Surat-surat 1943-1983 (1984), Sastra Indonesia dan Perjuangan Bangsa (1993), Koran dan sastra Indonesia (1994). Karya terjemahan Renungan Indonesia (karya Sjahrazad, 1947), Terbang Malam (karya A. De St. Exupery), Api Islam (karya Syed Ammer Ali, 1966), Max Havelaar (karya Multatuli, 1984) dan Quranul Karim – Bacaan Mulia (1978).

Puisi Lembah Harau | Dinullah Rayes

0 comments

Lembah Harau
Buat mitra: Wisran Hadi dan Upita Agustine
Dinullah Rayes

Lidah-lidah air terjun lembah Harau
Jilati bukit-bukit batu cadas terjal
Basahi lambung sukma yang lapar rindu
Dara-dara gelar tari bagi kembara yang tiba
Gerak jemari hati membias wajah cermin alam
Memanggil-manggil dalam isyarat tangan:
Mari pulang penyair meramu rasa di ranah Minangkabau
Padang yang lapang kalbu.

Kita berjalan atas daun-daun
menimbun kerikil jalanan
Mengeja cuaca, rambut-rambut waktu
yang ubanan
Kita segera pulang
‘pabila umur gugur dekat kubur
bunda Mualim Kerajaan.

(1999; Tabloid Kilas No. 50 6-12 April 2000)

Puisi Tentang Doa | Dinullah Rayes

0 comments

Doa
Dinullah Rayes

1
Bisik-bisik bunga rasa
Mendaki lereng kening-Mu
Semesta pun pesta cahaya
Tuhan merekah senyum

2
Tangan pun menadah
tetesan embun-Mu
Basah kuyup jemari batinku

3
Kuterbangkan merpati putih
hinggap di kubah benak-Mu
sunyi pun tersipu

4
Engkau diam dalam senyum
Lidah-Mu lisankan aksara cinta
buka pintu bumi sepi kasih

5
Hatiku kertas putih
Kumohon alif-ba-tas-Mu
Luluh dalam kaligrafi
bumi, langit batinku

(1996; Nusa Tenggara Minggu, 5 Januari 1997)

Puisi Tentang Rindu | Dinullah Rayes

0 comments

Rindu
Dinullah Rayes

Pohon dan hutan                       : rindu merindu
sukma dan badan                      : rindu merindu
burung dan ranting                    : rindu merindu
ikan dan air                               : rindu merindu
bayi dan susu                            : rindu merindu
petani dan sawah                      : rindu merindu
bocah dan mainan                     : rindu merindu
biduan dan lagu             : rindu merindu
penyair dan puisi                       : rindu merindu
tinta dan kertas             : rindu merindu
aksara dan buku                       : rindu merindu
surat dan amplop                      : rindu merindu
tanah dan air                             : rindu merindu
kopi dan gula                            : rindu merindu
kota dan warga             : rindu merindu
kaki dan sepatu                        : rindu merindu
garam dan asam                        : rindu merindu
flora dan fauna              : rindu merindu
dipan dan kasur                        : rindu merindu
kain dan kapas                         : rindu merindu
kekasih dan Kekasih                 : rindu merindu
insan dan Tuhan                        : rindu merindu

(1986 / Suara Muhammadiyah, No 8 Th. Ke-66 , April II-1986)

Loading

Random Posts

 

kumpulan karya Puisi | Copyright 2010 -1014 Karya Puisi |