Tuesday, April 15, 2014

Puisi Revitalisasi Sebuah Kota | Juniarso Ridwan

0 comments

Revitalisasi Sebuah Kota
- pelukis Conrad Felixmuller
Juniarso Ridwan

kota adalah kanvas carut-marut,
dengan sejumput oksigen diperebutkan,
dan kehidupan diatur angka-angka:

di sana tubuh identik dengan tanda tanya,
melingkar dan melata di lantai bacin,
digenangi kucuran syahwat membiru,
dan selalu tersesat dalam gairah purba.

orang-orang meramu arsitektur mimpi,
mencari bentuk lain dari bayangan diri,
dan perlahan-lahan tenggelam dalam waktu.

ribuan pintu segera dibangun untuk mengurung diri.

2003

Puisi Air Mengukir Ikan | Juniarso Ridwan

0 comments

Air Mengukir Ikan
Juniarso Ridwan

bangkai radio itu telah menari bersama sungai,
melewati riwayat kematian kota-kota; dengan gulungan
kabel telah dihubungkan denyut masa depanku,
sebuah penantian tak berlimit waktu.

di mana-mana, air mengukir ikan, menerjemahkan
kepedihan demi kepedihan. Basahnya membakar lubuk,
mengasingkan pasir ke muara-muara jauh.

seperti dirundung berahi, daratan terus mendungus,
memburu biru laut. Air pun mengukir ikan.

1996

Puisi Air Terjun Bantimurung | Juniarso Ridwan

0 comments

Air Terjun Bantimurung
Juniarso Ridwan

mengikuti jejak purba
mencari sumber kehidupan:
menimbang rasa dan harapan

di bawah naungan pohon
di dalam ceruk gua gelap
menerawang masa depan: putih

air mengalir mengubah nasib
seperti darah dalam nadi:
memandu hidup

gerak satwa dalam hutan
senantiasa mengukur
peradaban manusia

1990

Puisi Doa Sebelum Tidur | Budiman S Hartojo

0 comments

Doa Sebelum Tidur
Budiman S Hartojo

Maafkan saya, Tuhan
baru kali ini sempat mengingatMu
Maafkan saya, Tuhan
mungkin besok aku lupa lagi

Aku akan tidur
mungkin beberapa jam saja
Kini terserah padaMu
nasibku terlena di pangkuanMu

Aku tak biasa
berdoa panjang-panjang
Hanya kuminta
tolong damaikan dunia
selama aku lelap tidur dan terlupa

Aku tahu Engkau takkan tidur
dan tak kunjung lupa
Oleh karena itu
sebelum tidur kuminta padaMu
apa saja yang baik
untukku
dan untuk siapa saja

(Ah, barangkali Kau tertawa
Tapi betapa pun
maafkan daku)

1967

Puisi Tolong Pak Presiden Baru | Putu Oka Sukanta

0 comments

Tolong Pak Presiden Baru
Putu Oka Sukanta

tolong hati-hati membawa pantat
jangan sampai basah kebanyakan dijilat

tolong hati-hati membeli kacamata
jangan salah pilih kacamata kuda

tolong sering-sering memeriksakan gigi
jangan sampai taring memanjang sendiri

tolong buatkan instruksi khusus
agar wajib memasang perangkap tikus
di tempat kerja dan di dalam dada


tolong wajibkan setiap pagi senam kepala
menengok ke kiri kanan, ke belakang ke muka
ke atas dan ke bawah, bagi orang kaya
tidak terkecuali polisi, politikus dan tentara

tolong pak presiden-baru ingatkan para lelaki
jangan lupa diri
agar ingat neneknya perempuan
agar ingat ibunya perempuan
agar ingat istrinya perempuan
agar ingat pacarnya perempuan
agar ingat punya anak perempuan
(maaf temanku yang gay, dan yang lesbian
ini simbol, bukan hanya perkelaminan)
kan kita tak akan ada kalau mereka binasa

ah belum apa-apa terlalu banyak aku minta tolong
maksudku baik, agar jangan melupakan orang minta tolong
atau hanya dianggap anjing melolong

sekali lagi, aku minta tolong
jangan banyak berucap lho
masih banyak aturan diskriminatif lho
menjadikan aku tetap tahanan lho
tolong jangan tinggal lho
palagi hanya berucap lho

tabik pak presiden-baru
aku akan sering kirim puisi
tolong jangan dibalas dengan mengirim polisi

Jakarta, September 2004

Monday, April 14, 2014

Puisi Kerinduan | Yan Ari

0 comments

Kerinduan
Yan Ari

Kerinduan itu, melewatkan ku pada jalan buntu yang tak seorang pun tau
pikiranku melintas cakrawala sunyi
seandainya ada jalan yang menganga dari luka
akulah orang yang pertama melewatinya
seandainya ada jalan kenapa duka bisa melintasinya
akulah orang yang akan mengejarnya
aku tak ingin sendiri
aku kesepian tuan
aku rindu
kenapa tak ada setan yang memusuhiku?
dimana duka?
dimana luka?
dimana tangis?
menggelepar tanya-‘ku dalam gelap dan pekat jiwa
tuan
ajari aku berkorban dengan air mata
bukankah tidak setiap duka dan luka harus di tangisi

Jogjakarta, 27 Februari 2013


Sunday, April 13, 2014

Puisi Giri: Ciuman Bibirku yang Kelabu | Mardi Luhung

0 comments

Giri: Ciuman Bibirku yang Kelabu
Mardi Luhung

Seperti bangun-bangunan batu yang tebal
aku ciumi dindingmu dengan bibirku yang kelabu
lantaran kedua kakiku terikat besi, sedang
tanganku cuma bisa mencengkeram lemah

ya, ada degup di situ, aku dengar pelan-pelan
dan seseorang yang telah hancur berabad dulu
pun bangkit menghadang dengan rambut panjang
kemilau dan matanya, ya, matanya: “Mata si pemburu”

yang pernah melarung darah petir dan kilat
saat huruf belajar menyapa matahari-hijau, yang terbit
di antara kelangkang-gunungmu, tampak seperti
tatapan-tatapan yang sudah lama tak bergaung

dan mata si pemburu pun menggali lingkaran kapurmu
di mana, di situ tersimpan wajah-wajah makhluk
yang pernah berjaga di pinggir-pinggir sungai dengan
sorot tubuh menyiratkan pencapaian

lalu, mengapa wajah-wajah makhluk itu membedol
di pinggir-pinggir sungai? Apakah pencapaian yang
disiratkannya adalah dusta? Adalah si lendir amis yang
telah membuahkan patung dan menancapkan berjuta
bahasa-palsu di keningnya?


dan, lihat, kekuatan apakah yang sanggup menahan
limpahan bedolan sungai itu? Adakah yang tahu, jerit
kesakitan ataukan kelahiran yang disajikannya? Dan
adakah juga yang mencatatnya, lalu menenggelamkan

ke dasar-dasar palung dan jurang, dan membuat aku
mesti mengoreknya lewat cengkeraman yang lemah ini
sambil sesekali menatap angkasa yang menaburkan
serbuk-serbuk kasar bekas pecahan bulan-lain yang
sekarat

yang datang entah dari sisi mana, akibat peperangan
apa, dan membela dewa dan kitab siapa? Oh, aku pun
cuma sanggup mengigau sambil membayangkan sebuah
jalan-berkelok menuju keratonmu yang hilang itu

yang pernah mencelupi mimpi-mimpiku, dengan
puncak-puncak kubahnya yang gilap, yang melambai
penuh harap, agar kita berdua memasukinya, kawin di
situ, dan beranak tujuh-puluh-dua duyung dengan sisik
yang bening

duyung yang selalu berenang di seputar garis debar,
sambil mendedahkan sebuah teka-teki: “Manakah yang
lebih dulu, air ataukah lautan, manik tasbih ataukah
dengus dzikir, daya hafal ataukah daya baca?”

ya, Giri, Giriku, lebih dekatkanlah dindingmu pada
ciuman bibirku yang kelabu ini …

Gresik, 1997

Puisi Sendiri | Samsir Mohamad

0 comments

Sendiri
Samsir Mohamad

sendiri aku memilih
terjun ke kancah yang mendidih
taruhannya, segalanya
tubuh dan nyawa

ternyata ketika itu
banyak yang seperti aku
sehingga mengerucut
dan lahirlah barisan

bertahun-tahun dalam perjalanan
yang tewas berjatuhan
disimpan dalam kenangan
dalam degup jantung dan airmata

sendiri aku mencari dan mencari
yang terbaik buat kehidupan manusia
ternyata ada juga yang seperti aku.
dengan olah pikir berlantai sadar,
lahirlah sebuah kehendak.

kehendak yang mulia
untuk kehidupan manusia
sebab bumi ini milik dan
untuk kita semua.
tuhan pun akan
meridoi dan memberkatinya.

1951

Puisi Malingping | Juniarso Ridwan

0 comments

Malingping
Juniarso Ridwan

asal tanah jadi tanah
asal air jadi air
sepanjang tebing
bayang diri jadi asing

saat diam dicari
saat diliput sepi
tatap biru sekeliling

hidup
hening.

1981

Saturday, April 12, 2014

Puisi Hari yang Bergemuruh | Juniarso Ridwan

0 comments

Hari yang Bergemuruh
Juniarso Ridwan

nyonya Margho membaca surat itu sekali lagi,
halilintar menjalar di benaknya, badai pun
mendera kerongkongan. Surat itu seperti api
membakar deretan gedung, lalu arang
yang ditinggalkannya menjelma dirinya. Dalam renta,
sendiri porak-poranda.

“umur suamiku bagaikan lelehan lilin, mengalir dan
kemudian menguap, entah ke mana,” tangisnya
merambat, membasahi tanah, menghanyutkan
kenangan.

sekali ini ia menyadari, batu pun bisa diajak bicara,
pohon-pohon bisa mendengar keluhannya, dan angin
menjadi sahabat paling setia. Lolongan anjing kembali
mengingatkannya akan ladang gandum yang subur,
hamparan keju yang harum, atau gemeretaknya kayu
di perapian.

dibangunnya sebuah angan-angan, pesta penuh riang,
kopi hangat mengiringi obrolan ringan, dan semua tamu
dengan sopan saling bertegur sapa. Sambil mengelus popor
senjata, ia tersenyum getir.

“hari ini, memang perang belum usai,” gumamnya.

1999

Puisi Di Masjid Kualalumpur, Sebelum Jum'at | Budiman S Hartojo

0 comments

Di Masjid Kualalumpur, Sebelum Jum'at
Budiman S Hartojo

... siapa menggangu i'tikafku ketika engkau termangu di ambang pintu ke mana mengalir sisa air wudhu yang menetes dari dagumu ketika engkau melangkah ragu mengapa engkau terisak ketika surah ar-rahman tersendak di tenggorokanku siapa mengamini berkali-kali ketika kaubisikkan lafaz terakhir doa sujud sahwi lantaran lupa menangkap isyarat mataku bayang siapa berkelebat di lantai berkilat ketika aku membungkuk ruku di atas sajadah permadanimu tergugah engkau dari kantuk siang ketika aku berzikir dalam gumam tertunduk aku di bawah tiang ketika engkau menghilang lalu menyeru azan panjang terengah engkau ketika aku melepas rindu tergagap aku ketika engkau mendekapku siapa Engkau siapa Aku...?

Puisi Serasa Akulah yang Mesti Bercerita | Budiman S Hartojo

0 comments

Serasa Akulah yang Mesti Bercerita
Budiman S Hartojo

Serasa akulah yang mesti bercerita
sementara surya mengendap-endap di balik bumi saja
Serasa akulah yang mesti berkisah
sementara bumi pun resah dalam tidurnya

Kau yang bercertia selalu padaku
tentang derita, lapar dan duka
berceritalah padaku kini
tentang alam, manusia dan kasih sayang

Serasa akulah yang mesti bercerita
kini padamu walau tanganku fana
Setia dalam menulis syair sepanjang malam
karna tahu bahwa akhirnya kan berpisah

Serasa akulah yang mesti bercerita
namun memang aku mau ceritakan
tentang duka manusia
duka ibunda serta dunia dan jamannya

Dunia yang kini menapak dari jaman ke jaman
membayang dalam asap mesiu dan teriak perang
Maka kan direbutnya jabat tanganmu kasih sayang
sebab serasa akulah yang mesti bercerita sekarang

1962

Puisi Sebelum Tidur | Budiman S Hartojo

0 comments

Sebelum Tidur
Budiman S Hartojo

Putarlah knop radio itu
Jam sebelas tengah malam begini
terlalu sayang dilewatkan
hanya untuk mendengarkan berita-berita perang
dari stasion-stasion pemancar
luar negeri

Sebelum tikar, bantal dan sarung selimut
kausiapkan buat tidur
di atas lantai yang lembab
dengarkanlah barang dua menit
sebuah lagu:

"Aku kan datang kepadamu
wahai dunia lupa dan lelap
Aku masuki gelap rahsiamu
malam yang panjang berabad-abad

Akulah yang dulu pergi
mencari arti rahsia abadi
Lupakan keluh gangguan mimpi
walau terluka nasib sendiri

Diamlah engkau, wahai diamlah
dengarlah langkahku yang datang
Diamlah sejenak, diamlah
lelaplah tidur, lupakan perang"

1967

Puisi Semakin Sering | Putu Oka Sukanta

0 comments

Semakin Sering
Putu Oka Sukanta

Semakin sering kita bertanya
tidak hanya di mana kita sekarang
kabut knalpot menutup pandang
bukankah masih di rumah kita berdua
Ragu, keraguan, gamang, kegamangan

Siapa engkau istriku?
siapa aku suamimu?

Pacu kuda, kuda dilecut berpacu
mengusung ide-ide, juga amanat Tuhan
telah menjadi mantel atau degup jantung
Ah, sudah waktunya mencari terminal
sejenak, setidaknya mengenang cinta
dalam kerinduan yang tak berwajah

Jakarta, 2006

Puisi Bung Agam | Putu Oka Sukanta

0 comments

Bung Agam
Putu Oka Sukanta

engkau tidak pernah pergi
di manapun engkau kini
tertinggal puisi
tumbuh menggedor tirani
mencatat latini, bandar betsi, reformasi
kembaramu memahatkan puisi
hingga batas keampuhan insani

engkau tidak pernah pergi
tiba-tiba aku merasa sendiri

Jakarta, 2003 

Wednesday, April 9, 2014

Puisi Politik "Sajak Tentang Boneka" | Fadli Zon

0 comments

Sajak Tentang Boneka
Fadli Zon

Sebuah boneka
Berbaju kotak merah muda
Rebah di pinggir kota
Boneka tak bisa bersuara

Kecuali satu dua kata
Boneka tak punya wacana
Kecuali tentang dirinya
Boneka tak punya pikiran
Karena otaknya utuh tersimpan
Boneka tak punya rasa
Karena itu milik manusia
Boneka tak punya hati
Karena memang benda mati
Boneka tak punya harga diri
Apalagi nurani
Dalam kamus besar boneka

Tak ada kata jujur, percaya dan setia
Boneka bebas diperjualbelikan
Tergantung penawaran
Boneka jadi alat mainan
Bobok-bobokan atau lucu-lucuan
Boneka mengabdi pada sang tuan
Siang dan malam
Boneka bisa dipeluk mesra

Boneka bisa dibuang kapan saja
Sebuah boneka

Tak punya agenda
Kecuali kemauan pemiliknya

03 April 2014


Sajak Dua Baris | Samsir Mohamad

0 comments

Sajak Dua Baris
Samsir Mohamad

walau surga menanti
tak seorang berniat pergi
     *
walau amat pahit di bumi
selagi bisa elakkan mati
     *
egaliter baru di bahasa
dalam kehidupan belum nyata

2006

Puisi Aku Rela "Masuk Neraka" | Samsir Mohamad

0 comments

Aku Rela
Samsir Mohamad

lagi dua bulan, 80 umurku
15 tahun di penjara
dan pengasingan
10 tahun menduda.

maka kukenal dengan baik
derita dan kesunyian
sunyi di badan
sunyi di hati

tubuhku kini rentan
beringsut layu
linu menyayat otot
dan tulang kakiku.

tetapi…
lebih linu dan didera kepedihan
saksikan bangsaku
berkerudung takhayul
memuja batu-batu berlumut
dan besi tua.

jika bisa disingkirkan
biarlah kupagut
bersama kematianku.
dan jika itu dosa

Puisi Nyanyian Seorang Petani Muda | Budiman S Hartojo

0 comments

Nyanyian Seorang Petani Muda
Budiman S Hartojo

Aku sekarang duduk di pematang
memandang jauh hari depan mengambang di awan
Aku sekarang termenung di rumputan
menatap hijau padang, burung dan ilalang

Hari sudah tinggi dalam tikaman terik matahari
hari sudah larut dalam kerja sehari-hari
Anak-anak gembala menyanyikan lagu derita desanya
lembu dan kerbau bekerja dan makan seenaknya

Aku sekarang di sini menanti kiriman makan siang
dari pacarku yang sederhana, pelan berlenggang di pematang
Aku sekarang terlena di sini menanti hujan tercurah
dari langit Tuhan yang katanya maha pemurah

Hari pun kian larut buat bersenda dan berpacaran
hari sudah terlambat buat mengeluhkan nasib tanaman
Terlalu letih aku memikirkan kemakmuran
sedang tanaman di sawah ladang belum kunjung bermatangan

Aku sekarang di sini berpikir tentang perkawinan
Dan bila kawin nanti bulan depan
aku kawatirkan nasib ternakku sayang
sebab pastilah ia bakal dijual buat ongkos peralatan

Hari makin senja, senja makin malam
burung-burung pulang ke sarang
gembala menggiring ternak ke kandang
Beriringan mereka pulang
beriringan keluh warga desa, harga kerja tak seimbang

Aku sekarang di sini berbicara dengan alam
yang sabar dan ramah dibelai angin lembah yang rawan
Tak kutahu adakah ia tahu
tetesan keringat dan nasib tersia kerabat desaku

1962

Puisi Kuhamparkan Huruf-huruf Menjadi Sajadah | Juniarso Ridwan

0 comments

Kuhamparkan Huruf-huruf Menjadi Sajadah
Juniarso Ridwan

Agus, sengaja kuhamparkan huruf-huruf ini
menjadi sajadah pada malam gelap-gulita,
saat ini aku coba pahami sebuah dunia,
dengan nyanyian granat dan lolongan sunyi.

saat ribuan bangkai ideologi terkapar di angkasa,
kita sedot dalam-dalam dendam bergentayangan,
seperti sebuah kepercayaan:
membuat kita menjadi warga masyarakat baru,
dengan gairah arak dan permusuhan.

dengan bunga ketakutan kita panjatkan doa,
sambil menanti yang lain kelaparan,
hari ini tak ada beras atau ikan asin,
bila mau kunyahlah baut, kabel, atau ban bekas,
bukankah solar dan aspal masih tersisa di kuali?

dingin ini adalah lengkingan daun-daun gugur
dan kita sujud di pojok dapur,
mengharap suara-suara tak pernah singgah.

2001

Loading

Random Posts

 

kumpulan karya Puisi | Copyright 2010 -1014 Karya Puisi |