Saturday, May 9, 2015

Puisi Negeri Kusut | Abdul Rafi

0 comments

Ilustrasi

Negeri Kusut
Abdul Rafi

Negeri kita menyandang janji
Ciptakan menteri serba kompromi
Rakyat adalah janjimu
Menepati adalah spesial pribadimu
Kau berpidato
"Saya mengajak semua warga bangsa untuk naik ke atas kapal Republik Indonesia dan berlayar bersama menuju Indonesia Raya. Kita akan kembangkan layar yang kuat. Kita akan hadapi semua badai dan gelombang samudera dengan kekuatan kita sendiri. Saya akan berdiri di bawah kehendak rakyat dan Konstitusi".
Apa fakta janjimu?
Kalau kau bukan sedang kusut
dan kau melingkari janji berbalik bukti

Alumni PBSI_FKIP_
Universitas Islam Malang (Unisma) 2014


Puisi Tentang Buku Catatan | M.Hafizh Haqqani

0 comments

ilustrasi - source pic : floor-to-ceiling-books.blogspot.com 

Buku Catatan
M.Hafizh Haqqani

Usang dan berdebu
Namun ada seribu perasaanku
Yang kugoreskan di buku catatanku

Bertahun-tahun kusimpan bukuku
Di pojok lemari buku
Kerana aku tak ingin siapapun tahu
Apa yang kutulis di buku

Suka duka
Gembira dan lara
Kupendam disana
Menyimpan perasaan tak terhingga


Puisi Pena Hitam | M.Hafizh Haqqani

0 comments

Ilustrasi

Pena Hitam
M.Hafizh Haqqani

Aku menuangkan pikiranku
Aku menuangkan perasaanku
Aku mengerjakan sesuatu
Menggunakanmu

Aku memikirkan sebuah hal yang baru
Aku mendapat ide yang terbersit didalam benakku
Aku mendapatkannya dengan sesuatu
Pena hitamku

Tetesan tinta menyeruak di bukuku
Menjelma menjadi harapan baru
Goresan pena hitamku
Menumbuhkan semangat baru

Saat gundah aku menuangkan perasaanku
Saat gembira aku melampiaskan yang ada dihatiku
Saat apapun, aku akan selalu
Denganmu




Tuesday, May 5, 2015

Puisi Tentang Sahabat | M.Hafizh Haqqani

0 comments

ilustrasi : source : sodahead.com

Sahabat
M.Hafizh Haqqani

Wahai sahabatku,
Ingatkah engkau saat dulu,
Kau berbagi cerita denganku,
Membuatku terpana dan terharu.

Hari demi hari kita lalui dengan riang
Rintangan kau lewati dengan senang
Meskipun tantangan berlalu lalang
 Seakan tak ada rintangan yang tak bisa kau hadang

Di kala aku memikirkanmu,
Pepohonan menjelma menjadi dirimu,
Bebatuan menjadi semangatmu
Air di sungai menjadi ketenanganmu.

Tapi sekarang aku meneteskan air mata
Sebab kau tak tampak di pelupuk mata
Disini, aku merasa
Rasa kesedihan yang tak terhingga.

Semua mengingatkanku saat kala itu,
Menghabiskan waktu denganmu
Hanya saja sekarang waktunya untuk mengucapkan padamu,
Sampai bertemu lagi, sahabatku


Puisi Kamu versus Aku | Riri .H

0 comments

ilustrasi : source : polyvore.com

Kamu versus Aku
oleh Riri .H.

Aku adalah kamu
Tapi kita tidaklah sama
Dua watak menjadi satu

Kita ada karena Dia
Terjebak dalam bimbangnya kehidupan
Terbebas karena amarah
Tergantung satu sama lain

Aku bahagia, kamu yang marah
Aku ceria, kamu membentak
Perdebatan batin yang terus terjadi
Sayangnya tidak ada yang menang

Bercermin dan lihatlah aku
Kita sama, kita menyatu
Namun kita sangatlah berbeda
Aku bukan kamu dan kamu bukanlah aku.


Puisi Kepercayaan Tuhan...| Sigit Iskandar Pamungkas

0 comments

ilustrasi

Kepercayaan Tuhan...
Sigit Iskandar Pamungkas

Diriku terkulai tak berdaya
Tatapanku hanya maya
Aku,,,
Sudah tak bisa bangun...

Hendak kurangkul sepi...
Tapi...
Ku mendengar suara
Suara itu berteriak...

“Bangkitlah!!! Bangun dari tidurmu! Wahai makhluk hina!”
Suara itu hampir pecahkan gendang telinga hatiku
Kemudian suara itu datang dan berbisik ...
“Adanya dirimu,,, adalah adanya kepercayaan tuhan padamu”

Cirebon, 07 Maret 2015


Puisi Harapan Hampa | Abdul Rafi

0 comments


HARAPAN HAMPA
Abdul Rafi

Semakin lama Kumelihat wanita
Semakin lama Kuberpikir

Apa yang harus Kulakukan?

Apakah dia harus Kusebut bintang kejora atau rembulan?
Yang tak pernah Kulihat sebelumnya

Keindahan emas terlihat cemerlang di wajahnya
Membuat aku terkena pesona

Sungguh menggoda dalam lamunan
Membelenggu angan segala

Kini.
Waktu masih sembunyikan impian
Mencekik hati tanpa kepalan tangan
Adalah kelengangan dan gelap gulita
Adalah kecemasan menyita batin
Itulah awal bisikan
Sehingga hati tak dapat bernyanyi
Mulutpun hanya terbungkam

Malang, 20 Mei 2012


Sunday, January 18, 2015

Puisi Terasing | Yan Ari

0 comments

Ilustrasi : Pic by : kikunoen.deviantart


Terasing
Yan Ari

Terasing ku di sudut matamu
sekeliling menjauh dan nampak buram
dalam hening – sepi
riuh – pasar
siapa sangka kita ada
aku terasing dalam jiwa dan qalbu dalam rindu

Matamu memancarkan surya-caya
dengan bertutur kata
jantung gugup tak kuasa
suaramu pusara qalbu
mengubur dalam benci dan dendam,
ada juga pesan di halus belaimu,
sebilah pisau yang siap menghujam.

Purbalingga, Mei 2012


Sunday, December 7, 2014

Puisi Tentang Singapura | Lazuardi Anwar

0 comments

ilustrasi


Singapura
Lazuardi Anwar

Sebuah kota sedang melalap bangganya sendiri
di puncak selang seling kenderaan bergisir
sepi telah lama mati
ketika kita saling mendekati.

Tiada lagi desah berdenyit di sini
kehidupan diburu hari-hari bergetah
keringat menunggu
dentang lonceng di gardu.

Ketika aku menatap
engkau pun berkata:
pabila saudara datang
tiada lagi musim kembang.

Engkau pun mengipas-ngipaskan bangga
di dekatku, betapa sunyi persahabatan
sebuah puisi kuserahkan
kau terima juga tanpa sahutan.

Sebuah kota dilalap bangga
benderang warna bersela keluh
dan kapal pun mengangkat sauh
selamat tinggal.

1977


Puisi Melaka Diremas Sepi | Lazuardi Anwar

1 comments

ilustrasi


Melaka Diremas Sepi
Lazuardi Anwar

Melaka diremas sepi
angin lembut langkah hang tuah dekat perigi
datanglah ke mari
bersenda dengan puisi.

Benteng portugis menatap ke selat
berwajah cemberut
meneteskan air mata
dalam bahnya melaka.

Bintang kejut dari langit
tidak terkejut bumi peringgit
lautmu yang asin melaka
di tenggorokan mau bersin.

Melaka diremas sepi
diremas keinginan sendiri
laut berombak di bibir selat
mengukuhkan diri bersahabat.

1977


Puisi Sebuah Titik | Lazuardi Anwar

1 comments



Sebuah Titik
Lazuardi Anwar

Sebuah titik pada sebuah kalimat bagai halte di
terminal yang dibangun dengan tunai berjuta-juta
keringat rakyat melalui pos-pos pajak-pajak
pembajakan terus-menerus.

Sebuah titik pada sebuah kalimat menahan dengus yang
tercecer di jalan berlubang di kesibukan lalu lintas
kenderaan tanpa arah
tanpa singgah.

Sebuah titik pada sebuah kalimat menegunkan khianat
pada suami yang meninggalkan rumah
berbulan madu sendiri di tangkai layu
di tangkai penuh debu.

Sebuah titik pada sebuah kalimat bukan berhenti di sini
cuma istirahat di bungalow-bungalow
sebelum pagi
kemudian mandi basah kuyup.

Sebuah titik pada sebuah kalimat menebak batinku
tidak berhenti di sini
sebelum menembus
ujung sayup.

Sebuah titik pada sebuah kalimat belum lagi usai
kesia-siaan masih terbengkelai
di rumah yang beratap
tertembus titik hujan.

Sebuah titik pada sebuah kalimat tidak berarti apa-apa
bagi yang tidak tahu arti titik secara utuh
hanya bernilai kosong di pikiran lompong
bolong-bolong.

1978


Thursday, November 27, 2014

Puisi Sungai Cinta | Sumasno Hadi

1 comments

ilustrasi - source : www.pbase.com


Sungai Cinta
Sumasno Hadi

shalawat puisiku masih ngiang
ia menipu mata sebagai kekalahan
ia halus, ia lembut
ingin aku bergerak mengikuti jejaknya
sebagai kepasrahan pada cerita

tiada duga atau pikiran kepala
hanya tanya, hanya tanya
pantaskah aku menatap wajah bulanmu?
berujung permohonan kepada pemilik tabir suci
tuliskanlah puisi segala rahasia

tauhidkanlah ia
lekas akan kugelar sajadah darimu
di permukaan sungai cinta yang basah
sungai yang dipeluk para warna
butiran bunga-bunga

Kayutangi, 8 Oktober 2012


Puisi Titah Cinta | Usman Arrumy

0 comments


ilustrasi - Source : artandseek.net

Titah Cinta
Usman Arrumy

Cinta menitahkan aku jadi kata
untuk menyampaikan kau sebagai rahasia
meski tak kutahu kalimat apa yang pantas mewakili
tapi hanya kepada kau aku rela menggigil dalam puisi:

aku buku yang tak mau menerima apaapa selain namamu
setiap hura jadi haru, ketika hariku kosong tanpa hurufmu

aku waktu yang berdetik siasia kecuali kau bisa peka
seluruh laku jadi luka, bila kausua aku penuh prasangka

aku lilin yang melumer andai kau memintaku menghalau gelap
mengabdi kepada api, membayang sekejap lalu penyap

aku arwah yang melayang misalkan kau mengusirku dari tubuhmu
sepi jadi tempat menunggu, sejak kau membiarkanku digendam rindu

aku kemarau yang selalu mengerang selagi kau segan jadi hujan
membisikkan harap kepada awan, memanggilmu dengan sisa getaran

: Kekhawatiran menjadi puncak dari zikirku
pemuja yang tak jemu menunduk di hadapanmu
jangan lagi kau tuntut aku termangu mengawasi parasmu
aku tak mahir menafsir senyum yang menggelincir di bibirmu

Tenanglah, sehening ruang tanpa gema
akan kuresapkan cahaya ke dalam pena
demi kau bisa kutulis sebagai cinta seutuhnya
agar kelak bisa dibaca seusai masa kita


Puisi Kwatrin Tsuroysme | Usman Arrumy

0 comments

ilustrasi : Source : roundtherocktx.com


Kwatrin Tsuroysme
Usman Arrumy

Selain puisi, adakah jalan untuk menujumu?

Aku mengandaikan kau sebagai kertas putih,
yang berkenan menampung katakata sedih
sebab aku percaya betapa kaulah kekasih

di hadapanmu yang sentosa,
seluruh kataku moksa,
sefana dunia seisinya
bagaimana kutulis kau, Cinta
sedang tatapanmu lebih puisi,
ketimbang berlaksa sang pencipta aksara

Puisi adalah satu-satunya kendaraan,
yang mau mengantarkan kesedihan mencapai kenangan
menuju jauh ke dalam dirimu, berpaling dari masa depan

di banding Pujangga terkenal
tatap matamu lebih kekal
nyatanya detakku fasih menyebutmu tanpa sesal
sembari mengembarai semesta,
aku mencari kata paling luka
untuk kusampaikan kepadamu wahai sengsara

Selain puisi, adakah yang lebih kenangan?

aku menghayalkan jadi kata yang terselip di sela kalimatmu
di antara larik lirik di balik bilik yang kaulafalkan dengan rindu
aku akan tumbuh sepenuh yang tak bisa direngkuh
aku akan mengembara sejauh yang tak bisa ditempuh


Sunday, November 23, 2014

Puisi Kasihilah Aku | Listyaning P Rini

0 comments

ilustrasi - source : peperonity.com


Kasihilah Aku
Listyaning P Rini

pejalan miskin rautnya debu
Kulitnya layu
Matanya kusu

Tak ada bandingannya dengan bidari beribu
Kau sebut satu-satu
Semisal ratu-pesta, putri-dansa
Yang bibirnya merah merayu
Bulu socanya lentik menggodamu

Aku saudarimu,
bagian dari dirimu
Terbuang jauh di sudut rindumu
Yang telah lama kau lupa
Senyumku telah asing bagimu
Dan rasa lelahku telah membebanimu
Sedemikiam rupa sehingga
Kau berpaling dariku


Saturday, November 22, 2014

Puisi Aku Ingin Dengar | Walrina

0 comments


ilustrasi - source : www.becuo.com

AKU INGIN DENGAR
Walrina

Sudah berhasilkah kamu benci aku tuk selamanya
Sudah berhasilkah kamu pergi dariku tuk selamanya
Sudah berhasilkah kamu lupakanku tuk selamanya
Sudah berhasilkan kamu lepaskanku tuk selamanya

Tolong berikan aku kepastian tentang hatimu
Tolong berikan aku jawaban dari semua tanyaku
Tolong katakan tentang kejujuran dalam  hatimu

Aku ingin dengar dari mulutmu kalau kamu benar membenciku
Aku ingin dengar dari mulutmu kalau kamu tak menginginkanku
Aku ingin dengar dari mulutmu kalau kamu tak mencintaiku
Aku ingin dengar dari mulutmu kalau kamu tak menyayangiku

Jangan biarkan hatiku terus bertanya
Jangan biarkan air mataku jatuh tak terkira
Aku tak pernah dapat jawaban dari bibirmu
Aku hanya dapat jawaban dari mereka

Mereka yang belum tentu benar
Mereka yang hanya membuatku semakin terluka

Samboja, 25 Agustus 2011


W A L R I N A 
Accounting KSP 
PT. Alam Jaya Persada 
Agro Mandiri Semesta Ganda Group 
Samboja, Kutai Kartanegara


Sunday, November 16, 2014

Puisi Kucubit Pipi Kuala Lumpur | Lazuardi Anwar

0 comments

ilustrasi


Kucubit Pipi Kuala Lumpur
Lazuardi Anwar

Ada dengus dari kubur
dalam tanur matahari yang
semakin meninggi

Kalau di sini ada sahabat
kupeluk jari-jarinya erat
firdaus, kemala dan baha dalam tebat
kami lahap ketupat demi ketupat

Angin puyeng di tekad bukit
mencurah ke lembah jaya
pemukiman dalam kelam
rumah haram, tanah haram, kata orang.

Kucubit pipimu kuala lumpur
di kelanggengan suara guruh
keasingan yang tidak pernah asing
menyedot napas pabrik di petaling.

1977


Puisi Indonesiaku | Lazuardi Anwar

0 comments

ilustrasi


Indonesiaku
Lazuardi Anwar

ini salam hangat dari
hari-hariku yang rawan
tersentuh embun pagi.

Menekur gundahku dalam
wahai indonesiaku manis
siung angin singgah di tiang pencalang
menyingkirkan puting-puting.

Bukit-bukit tersiram matahari
lembah mencelak di tangkai daun
menggelitinglah wahai
indonesiaku manis

Cakram menikam ke lembah dalam
tubuh  yang telanjang
gemetarlah wahai
indonesiaku manis.

Hari-hariku yang rawan
tersentuh embun pagi
bergetar di ujung jari pemain gitar
menggugah lagu indonesiaku yang sinis.

1977


Puisi Nelayan Pantai Barat | Lazuardi Anwar

0 comments

ilustrasi


Nelayan Pantai Barat
Lazuardi Anwar

Bukit curam
bukit batu menggeliat dipanggang hari
pecah-pecah ombak bersimpuh di lututnya
matahari terjun ke balik batu karang.

Senja di pantai barat
nelayan bergegas berkayuh pulang
nganga harap yang hampa
tawar laut air ludahnya.

Musim-musim berdatangan
derai puting beliung di pusar laut
terkulai menatap laut busa hidup
cadar bias berlumur kelabu

jemari hari memilin-milin kehidupan
ke laut, bintang pagi belum berangkat tidur
ke darat, matahari terjun ke balik batu karang.

Bukit batu menggeliat sepanjang pantai
derai puting beliung di pusar laut
nelayan pantai barat
cadar bias berlumur kelabu

1970


Monday, November 10, 2014

Puisi Benalu | Sutardi MS Dihardjo

0 comments

Ilustrasi


Benalu
Sutardi MS Dihardjo

Akar kecil menempel di batang hati
Menghisap pelan membekal diri
Sambil menghisap merayap mendaki ambisi
Sambil menginjak setapak demi setapak
Menaiki tangga puncak
Melompat mengundang decak

Kuat benalu mencengkeram
Mengeropos batang
Habis cadangan kurus ranggas
Gamang terpusing puting beliung
Tapi benalu tak peduli

Lama di puncak
Lupa suara tapak
Tak bisa bedakan
Antara sorak
Dengan teriak

Angin pusaran badai
Mengguncang pohon
Permainkan benalu penghisap
Menggoyah akar di kedalaman

”Kemaldhean ngajak sempal”
Kuatkah bertahan?


Loading

Random Posts

 

kumpulan karya Puisi | Copyright 2010 -1014 Karya Puisi |