Monday, March 25, 2013

Puisi Menuntun Jejak | Malaeka Aqilah

0 comments

Menuntun Jejak
Malaeka Aqilah

seperti taburan mawar merah di pusara
Aku hanya mampu diam mendengar luka
jatuh aku layu dalam siraman
Di awang, kita tertawa dengan menanam pedih
Lagu-lagu sendu, menggapai tiap sudut jalanku
Terlanjur ku peluk binar matamu
Hanyut dalam lagu bening
Hingga rasa ini tanpa tepi
Kini cinta adalah kepingan jejak
Hancurku dalam dekap halusmu
Buta masa, jatuh tertahan
Melambai kata merasuk derap jantung
Terlampau pandang menitik putih
Satukan genggam pada uraian haru
Setelah kedip semua berubah dan terjadi
Kembali sunyi

Kediri, 20 Maret 2013


Puisi Ratune "Negeri Yang Seharusnya Berjaya" | Purwanto

0 comments

Ratune
Purwanto

Kata Orang:
Negeri ini adalah negeri 1001 budaya
Negeri 1001 bahasa,
Negeri 1001 sastra,
Negeri 1001 tari,
Negeri 1001 candi,
Negeri 1001 kuliner,
Negeri 1001 hayati,
Negeri 1001 satwa,
Negeri 1001 mineral,
Negeri 1001 sumber energi.

" Negeri yang seharusnya rakyatnya tidak sengsara"
" Negeri yang seharusnya tidak dirasuki jiwa yang serakah"

Apakah salah jika beratus tahun yang lalu
Dua Raja yang pujangga meramal masa
Akan datang mala petaka
Atau kita yang tak tanggap akan pesannya.

"Ratune nyembah kawula" adalah kalimat yang teramat sempurna.
Akankah kita mengalaminya????

"Ratune nyembah kawula"
Ratu yang tidak membiarkan kawulanya sengsara.
Ratu yang puasa saat kawulanya lapar.
Ratu yang telanjang saat kawulanya tak punya sandang.

"Ratune nyembah kawula"
Ratu yang bertani menanami negeri.
Ratu yang merajut menenun sandang.
Ratu yang berdagang saat kawulanya berkarya.

"Ratune nyembah kawula"
Ratu yang jadi guru untuk kawulanya yang dungu.
Ratu yang membaca untuk kawulanya yang buta.
Ratu yang menulis untuk kawulanya yang tuli,

"Ratune nyembah kawula"
Ratu yang menangis saat kawulanya sakit.
Ratu yang terjaga saat wabah meraja.
Ratu yang berjaga saat datang bencana.

"Ratune nyembah kawula"
Ratu yang menempa senjata.
Ratu yang didepan saat berperang.
Ratu yang murka jika kawulanya dihina.

Ratu tanpa pengawal.
Ratu yang dirampas dari kerabatnya.
Ratu yang jiwanya dikorbankan.

"Ratune nyembah kawula"
Ratu yang mengerti budi pekerti.
Ratu yang mengerti potensi negeri.
Ratu yang mengerti 1001 masalah negeri.
Akankah kita menemukannya????

Saat ratu mulai bertahta.
Bukan pesta yang pertama.
Tapi menanam yang utama.
Sebab kawula menahan lapar.

Sang ratu membuka lahan.
Sang ratu mengatur banyu.
Sang ratu membuat bajak.
Sang ratu meramu rabuk.

Jika padi berumur cukup.
Kawula bersuka cita.
Sang ratu membangun lumbung.
Agar lebih dapat ditabung.

Jika cukup padi di lumbung.
Sang ratu jadi pandita.
Menggembleng para pemuda.
Luhur budi, tinggi pekerti.

Waktunya menyusun hukum.
Karena dulu …
saat raja-raja senang berpesta.
Kawula memakai hukum rimba.

Saat raja-raja hilang kharisma.
Kawula membabi-buta.
Lupa aturan hilang tatanan.
Pandita dikekang, guru ditentang.

Saatnya sang ratu mengangkat gada.
Mendera raja-raja.
Agar Raja nyembah kawula.
Hingga kawula lepas sengsara.

Cirebon, 5 Maret 2013



Tuesday, March 19, 2013

Puisi Menapaki Tangga Langit | Pratiwi Purnama Sari

0 comments

Menapaki Tangga Langit
Pratiwi Purnama Sari

Ku tapaki jalan tak bertuan
Ku masuki rumah tak beratap
Ku cari ia dibalik jendela bambu
Hanya jari-jari rumput yang menyambut

Berteman rumput ilalang
Berselimutkan langit tanpa tiang
Sunyi,,,,,,,,,
Ku tapaki hati tanpa malaikat
Ku terlelap dalam jubah kelabu

Banda Aceh, 15 Maret 2013


Puisi Sampai Kapan..? | Rudy Bekam

0 comments

Sampai Kapan...
Rudy Bekam

oh,
aku nyaris tak mampu
tuk tak memperturut kata hatiku
bahwa aku masih,
mangasihi dan menyayangi
meski berapa kali lagi
kau kan campakkan aku,
aku tak peduli.

Izinkan aku mencintaimu

Layang-layang panjang benangnya
melayang-layang di awang-awang
panjang benangnya sejauh pandang
makin diulur jauh melayang

oh...
kau ulur aku
dengan lemah lembutmu
dengan senyum manismu
dengan sapa ceriamu
dan menggebunya hasratmu
pada dunia.

oh...
semakin jauh akupun melayang
smoga kudapat cintaNYA

Jakarta, Tenabang,160313


Puisi Aku dan Waktu | Fitriana Nugraheni

0 comments

AKU DAN WAKTU
Fitriana Nugraheni

Aku bosan
Siapa yang tahu tentang ini..
Kau pun tidak tahu
Dan siapa yang ingin tahu sebenarnya

Aku bilang aku payah
Siapa yang tahu tentang ini
Kaupun tidak tahu
Dan siapa yang ingin tahu sebenarnya

Aku bosan karena kepayahanku
Lama dan lama
Waktu ikut bosan menungguku
Melirikku yang tetap payah disana

Waktu terlalu membosankan
Bosan karena terlalu diremehkan
Menjadi payah karena tak ada yang memperhatikan

Bosan beriringan
Payah untuk kebersamaan
Lama dan lama
Sampai waktuku terhitung detik,menit, jam, hari, bulan dan tahun

Malang, 10 maret 2013


Puisi Untukmu Disana | Norma Puji Lestari

0 comments

Untukmu Disana
Norma Puji Lestari

saat langkah mu beranjak pergi
tegar seakan berlari memburu cinta
aku hanya mampu menatapmu dari sini
diam dan tertegun sendiri

walau kesunyian akan menemaniku
demi kamu dan jasa mu
janji yang terucap oleh mu
engkau pergi takkan lama

namun satu ku pinta dari mu
saat engkau kembali nanti
aku ingin senyum yang kau bawa dulu
akan kau bawa pulang kembali
dan kau sunggingkan untuk ku

kepergianmu meninggalkan q sendiri
dan harus ku akui
sebaagian warna ,canda , tawamu surut

tapi selamanya aku harus yakin dan selalu yakin
dimana jarak takkan mampu jadi penghalang
dan jiwalah yang saling menyatu :)

Magelang, 15 maret 2013


Friday, March 15, 2013

Puisi Tentang Tanyaku | Alif Nurhasby

0 comments

tentang tanyaku
Alif Nurhasby

aku memang Bodoh,.
karna kebodohanku sampai sampai
aku sering bertanya,..
ada yg tertawa,ada yg jengkel,bahkan ada yg kesel
ya karna kebodohanku.

....aku memang Bodoh.
sampai sampai aku sendiri bertanya
siapa aku ini..????
dulu aku sempat cemburu sama sipintar
iri sama kelebihannya...

aku memang Bodoh..
tapi aku bersyukur karna kebodohanku

15-03-2013


Puisi Aku Menulis Ketika Ku Duduk | Alif Nurhasby

0 comments

Aku menulis ketika ku duduk
Alif Nurhasby

Terlahir dari Hidup yg simple juga sederhana,,..
laksana sebagian org-orang desa yang lainnya,.
memiliki daya nalar dalam berhitung& juga membaca
itu sudah termasuk bahagia..
4sehat 5sempurna hanya hapalan waktu duduk dbangku sd saja..
kenyata'an yang ada sudah bisa makan nasi saja itu sudah luar dari biasa

ta semua orang-orang dari desa tertimpa hal serupa seperti kata yg tertulis
ada yg memiliki hidup, lebih sempurna ketimbang apa yg tertulis
akan tetapi Tuhan memang adil juga bijaksana
semua telah tertata dgn ketentuan yg ia titipkan...
dari kata ber'awal cerita
dari kata dimulai semua yg ada
Didesa tempat ku menjadi sesosok manusia
menjadi berharga jika punya uang dan juga Tahta..
segala gerak baik ucapan,maupun perbuatannya
laksana Dewa atau Tuhan(sesembahan)saja..

Tanah ku tempatku lahir
sundaku,tempatku awal mungkin menemui ahir
akankah Hidupku ber'awa dan ber'ahir hanya dibibir???

15-03-2013


Puisi Laron Kecil | Alif Nurhasby

0 comments

Laron kecil
Alif Nurhasby

100% Hadiah Tuhan
sebuah lukisan Tuhan yg tercoret didinding perjalanan
s'sosok manusia yg berani karna serba keterbatasannya
tamparan demi tamparan ia lawan dgn kata gilanya,.
se'olah-olah....
Tuhan biarkan semua skenario yg ada pada dirinya
hingga satu tamparan,Telak bnr-bnr menyentuh semuanya,.

Tuhan,,engkau memang maha bijaksana,
sepotong kecil makanan dari surga
kau hidangkan untuknya,,


Harimau mengaum,monyet menggaruk,Kerbau mengamuk
benar adanya,,
Bahwa ia begitu ikuti apa yg dirasa hati juga perasa'annya.

sesosok manusia yg dulu Garang juga lantang
telah menjadi panutan,dulu ia menggurui org-org bejat
sekarang ia Gurui orang-orang tersesat..

...sosok linuwih,otak predator,mulut serangga
bertangankan besi,berjalan diatas bumi
Terdiam menikmati sepotong makanan kecil dari surga
yg ia habiskan kemarin....

15-03-2013


Puisi Inilah Aku | Alif Wahyu

0 comments

Inilah aku
Alif Wahyu

seperti air yg mengalir,
laksana angin yg berhembus,
seumpama pohon dihinggapi dedaunan dan ranting...
itulah yg ku'mau..

terdiam walau bergerak,,
ada tapi ta pernah tersentuh
sembunyi dibalik cahaya terang..
Disisi Ruang,,dalam kekuatan
pasrah meski tetap berdo'a,,
sampai nasib berkata,inilah karyaku

inilah aku adanya...

Alif wahyu 15-03-2013


Puisi Dalam Harap Tetap Berharap | Alif wahyu

0 comments

Dalam harap tetap berharap
Alif wahyu

ada harap ketika gelap
ada ingin ketika terlelap
ada setara dengan Buaian ketika menguap

ini episode mahluk penuh ratap
ini episode mahluk mahluk atap
Dibawah langit masih menunggu
ada satu harap,,semoga..

satu sosok mahluk dengan mantap
berharap hidup ada terang setelah gelap
ada terang setelah terlelap
ada terang setelah segala yg ada sekarang dirasa..

satu harap diatas atap yg masih meratap
menunggu dari gelap,terlelap,bahkan menguap
semoga ada cahaya perubahan dalam harap..

dalam harap semoga tetap berharap...

15-03-2013


Puisi Diatas Cerita Hanya Cerita | Alif Wahyu

0 comments

Di atas cerita hanya cerita
Alif wahyu

memeluk api menaiki Gunung.
dibalik awan ada Rumah para Dewa..
Berjalan mencari Tinta yang kutemui hanya warna
menari bernyanyi diatas luka,,,Luka yg tersembunyi
Didalam hati,,.

orang Gila berjalan sambil tertawa
orang waras diam menyaksikan sambil membaca
harimau Bingung monyet susah bertanya sebab
apa yg harus diperbuat....

Dibalik tabir ada cibir
Didalam suasana ada Duka..

nasib manusia mnjadi ber'aneka
sebab Hidup susah ta kunjung sudah...

para Dewa berpesta pora diatas awan yg biru
para denawa dengan senyum memujinya
dayang mandi beri tanda dengan pelangi



15-03-2013


Puisi Di mana Tanyaku | Alif wahyu

0 comments

Di mana Tanyaku
Alif wahyu

Dengan senyum aku menyapa
Dengan tawa aku tersiksa
Dengan kata aku memuja
Dengan Gerak ada putus asa..

Dunia Bulat pancasila lima
Bendera bekibar kibar
canda tawa ketika kentut dikasih teman saja...

Diatas kepala didalam dada
yg terasa dan masih terasa
hanya kewajiban saja...
kewajiban menjalankan amanah sebagai manusia

inginku,anganku,dan semua harapanku
tertunda disaksikan pengusaha berebut tahta...

masihkah ada cerita bahagia
masihkah harus menerima dongeng dan ucapan kata,,
sabbar sabbaaar,dan sabbaaar..
meski Hidup tinggal menunggu waktu saja...

Dimana letak bahagia??????

15-03-2013


Puisi Tanyaku Buatmu | Alif Nurhasby

0 comments

Tanyaku Buatmu
Alif Nurhasby

Gerakmu penuh pertanya'an,..
amarahmu menyerupai dendam,,,
omonganmu seperti dalam kebimbangan...

Berjalanlah,,berjlanlah,,
melangkahlah,melangkah....Diam..
Dalam dirimu ada keputus'asa,an
dakam jiwa ada kerugian,.

Diamlah,,,Diamlah..kutau itu semua kawan,.
Dengarlah dengarkan..
lihat disekelilingmu,rasakan angin berhembus
dekati dirimu..

rasakanlah,,rasakan........
masi ada harapan & jalan menuju keberhasilan,,,
jadikan kemarin menjadi Guru terbaikmu
dalam pengalaman hidup kedepan...

Diamlah,,atau berjalanlah sbb itu sebuah keputusan dan pilihan,..

15-03-2013


Puisi Aku dan Pertanyaanku | Alif wahyu

0 comments

AKU DAN PERTANYA'ANKU
Alif wahyu

karyaku terpampang dalam mulut cakrawala
ceritaku tergantung diposter poster org'' kaya..
tanyakan Dunia,,
tanyakan, benarkah aku terhimpit diiga-iga manusia berjubah naga..
sisi Bumi atas langit
benarkah ada Ruang buat manusia mulia
daan,,benarkah itu husus manusia yg mulia
lalu dimana tempat bagi orang orang Hina....???

Duhai sengsara aku menyapa
Duhai anak terlahir tanpa bapa
sabarlah dan tunggulah
rencana alam ketentuan tuhan
menantimu disimpang jalan....

Dibalik beranda ku ajak yang baca...
ngopi aja dah...

15-03-2013


Puisi Kapan? "Kala Bangsa Teriris Luka Kemanusiaan" | Eto Kwuta

0 comments

Kapan?
Eto Kwuta

Pada jantung hari
Awan pekat berlari
Sang mentari
Bersembunyi jauh kemari

Pada jantung pertiwi, ada duka membalut miris tangis anak negeri:
“Tuhan,
Kapan selesai?”

Bangsa ini memang bangsa terkabur
Selalu berbincang tentang yang kabur-kabur

Mikael, 10 Maret 2012
Kala bangsa teriris luka kemanusiaan


Wednesday, March 13, 2013

Puisi Kamu "Kamu Hanyalah Bayanganku" | Yulia Fitri

0 comments

Kamu
Yulia Fitri

di dalam lubuk yang paling dalam
hanya ada kamu seorang
di antara berjuta juta sel di dalam tubuhku
hanya kamu yang menggeliat di relungku

tapi kini kau telah tiada
yang hanya menyinggahi diriku sejenak
tiada kata yang menyakitkan
tiada pula hadirmu disini

kamu...
iya kamu...
yang selalu di pikiranku...

13 maret 2013


Puisi Sahabat | Aura Aushaflina Sunarto Putri

0 comments

Sahabat
Aura Aushaflina Sunarto Putri

kau bagai matahari
menerangi di kala ku gulana
menemani saat ku ceria
menghibur saat ku lagi suntuk.....

Sahabat
sahabat sejati,tdk rela bila ku menyendiri
selalu ada tawa dan ceria..
slalu bersama dalam sgala swasana.....
sampai ke ujung dunia.........

MI-AL IRSYAD AL-ISLAMIYAH KEDIRI


Puisi Pulang Ke Tanahmu Madura | En kurliadi Nf

0 comments

Pulang ke tanahmu
: madura

En kurliadi Nf

tanah yang dulu wangi tembakau
dan menghasilkan asin garam

airmataku jatuh menyusui musim

: tanahmu sudah anyir
tak lagi harum
dan burung-burungpun bertanya

( Kemana akan bersarang dan membesarkan anak-anaknya )

Sumenep-bangkalan-sampang-pamekasan, 2011


Puisi Bersalah | ArieyWee

0 comments

Bersalah
ArieyWee

Satu-persatu
mereka pergi
tak ada ribut
tak ada angin,
hilang.

Berkali-kali
mungkinkah salahku
silap menghargai
leka
lalai.

Aku hanya hidup di dunia
sebagai insan biasa
tidak tegar
menahan
bertahan
aku mahukan kebebasan!

Maret 2013


Puisi Aku Tak Suka | ArieyWee

0 comments

Aku Tak Suka
ArieyWee

Sudah tentu kalau rahsia terbocor
orang suka korek lagi dalam
korek lagi;
esok lusa pergi berjaja.
Jual ayam-ikan-sayur aku puji
cuma,
jangan berjaja aib orang.
aib bukan dibeli;
bukan dijual.
Tak timbul hukum demand dan supply,
tak tahulah kalau "tumbang" subjek Ekonomi
tak untung tak rugi.

Maret 2013


Puisi Perahu Kertas "Cintaku Terombang Ambing" | Nurul M. Aisyah

0 comments

Perahu Kertas
Nurul Melaniansyah Aisyah

layaknya engkau
dua insan yang sulit menyatu
menjadi terdampar di perpisahan

andai aku...
dapat tau perasaan hatimu padaku
tapi ku yakin kau menyimpan rasa
untuku yang tak pernah bisa terungkapkan

tatapan matamu
membuatmu semangat
senyummu
seperti yang memberi isyarat

aku semakin yakin
tapi ada satu penghalang
yang membuatku sulit ungkapkan kata

tak saling bicara
hanya bisa menatap
tak bisa menyentuh
tanya bisa memendam rasa

aku berjanji
suatu hari nanti
aku akan memberimu cinta
lewat perahu kertas ...

8 maret 2013


Puisi Bulan Setengah Di Kaki Langit | Sri Rejeki

0 comments

Bulan Setengah Di Kaki Langit
Sri Rejeki

berselimut awan ...
temaram...namun sinarnya menembus udara....hampa..
hembusan sang bayu menyelinap di sela-sela dedaunan melambai..
gemericik sungai di samping rumah..
membelai jiwa yang sedang tepekur..
dalam malam yang semakin kelam..

Menerawang jauh angan menyibak udara yang kian dingin...
meski malam tlah semakin larut..
mata ini trus menulis di kanvas hati...
menulis dan menulis..
dalam guratan merangkai kata demi kata..

melukiskan perjalanan malam yang terus berlari..
tak pedulikan hati yang kian sepi..
merenda benang-benang dalam jaring-jaring hati...
menatap langit- langit hati yang berharap asa...
esok kan hadir...di sini..
kau menyapaku kembali...

Yogyakarta, 11 Januari 2011


Thursday, March 7, 2013

Puisi Koruptor "Bersemangat Kerakusan Aku Siap Menghisap Darahmu"

0 comments

KORUPTOR
Eko Roesbiantono

Engkau menyangka aku telah lenyap dari negrimu
maka engkau pun bersorak sorai kegirangan
dalam pesta-pesta dan karnaval yang melelahkan,
namun ketika engkau telah kelelahan dan mau tidur,
aku telah menunggu serupa jutaan nyamuk
di kegelapan bawah ranjang,
bersemangat kerakusan aku siap menghisap darahmu

Surabaya, 2013

Puisi Ayam "Ayam Mengokokkan Tangan Ibu" | Laura Rafti

0 comments

Ayam
Laura Rafti

Aku tertidur. Ayam mengokokkan tangan ibu yang dirapatkan ke kening.
Saat aku kembali meninggalkanmu. Mata perasaanmu mengintip, secepat
mungkin  kuseka airmata.

Rindu menyusup pilu pengorbananmu. “ibu aku merindumu!”.
“Nak, jangan rindu nanti sakit,  dik di sana menuntut ilmu”.
 Seketika  menanamkan bom. Meledak pada sajak kusut selesai mati sesaat.

Pekanbaru, 13/20 Oktober 2012

Wednesday, March 6, 2013

Puisi Senyap "Suara Tanpa Suara" | Eko Roesbiantono

0 comments

SENYAP
Eko Roesbiantono

siapakah senyap menggigil seperti gemetar bibir
menghitung pasir
terbata mengeja desir
termenung merenung suwung
tak pernah benar mengerti senyap terapung-apung
dari gunung sampai hati yang wuwung
siapa senyap mengendap-endap di atap-atap rumah
dan turun mengetuk pintu ini
mungkinkah ia
kekasih yang telah lama menunggu
dari mimpi masa kanak-kanak yang jauh
pada akhirnya ingin kembali senyap
tempat segala bermula dan berakhir
gerak tanpa gerak
senyap dari fitnah dan persekongkolan dunia
yang menjulurkan lidah bercabang
senyap dari gelap keinginan dan kecemburuan

Pesisir tiba-tiba menggigil, dan di laut
layar-layar perahu menjelma alif
menunjuk langit

Surabaya, 2013

Puisi Tergelak | ArieyWee

0 comments

Tergelak
ArieyWee

Mengimbau kenangan lama;
tergelak besar
lama-lama
gelak tawa itu hilang,
sejarah hitam
membawa separuh dariku
tenggelam dalam kegelapan.

Maret 2013


Puisi Tentang Keluarga | ArieyWee

0 comments

Keluarga
ArieyWee

Pagi yang riuh
suara mereka bertempikan
berlumba-lumba
mencari hasil sendiri,
tegur dan salam
senyum dan berpelukan
gembira!
Ibaratnya bagai keluarga
tak kira berbangsa apa
tak kira warna kulitnya
merekalah keluarga.

Maret 2013


Puisi Roda Kehidupan | Agita Ekayanti

0 comments

Roda Kehidupan
Agita Ekayanti

Yang kaya yang raja
Foya-foya dengan harta
Tanpa mengenal saudara
Berlenggang prestie
Menari kekuasaan
Menyanyi jabatan
Hampa merenggut ilmu
karena
Tangan tak sampai
Tertutup harta

Maret 2013


Monday, March 4, 2013

Puisi Kali "Aku Kali Yang Mengisi Samudra Tiada Henti"

0 comments

KALI
Eko Roesbiantono

Jika aku ingin selalu mengalir di matamu
yang ingin mengisi gurun-gurun tak diingini?
Mungkin kata-kataku masih menyembunyikan mata air
yang mengalir dari sumber-sumber yang jauh di hatiku
Maka tak akan bisa kau tangkap air yang mengalir itu
mengangkut masa lalu ke ufuk biru jauh
Tak akan bisa kau tangkap air
yang mengalir dari hulu hatiku ke hilir rupaku
hanya basah sekejap
sebelum mengering
sebagai kenangan
Dan jika kau ingin mengalir menitinya
mengalir di mataku
kan kau temukan betapa sepi muara itu
dan kau tak akan pernah berlabuh
Dan perahu yang mengangkut biru makna itu
akan selalu terapung di antara cerah langit
dan gelap laut
Dan diantara keduanya kelak kan kujala biji matamu

Malang, 2013

Puisi Kepompong Waktu | Samsul

0 comments

Kepompong Waktu
Samsul

Terbelenggu sesak nan menggasak
Setelah menghitung detik dalam sutra
Lalu bergelayut di pohon rindu
Kapan kau menjelma kupu-kupu?

2013

Kumpulan Puisi Karya Remy Soetansyah Dirilis dalam Bentuk Buku

0 comments

Jakarta - Sebuah kumpulan puisi karya almarhum Remy Soetansyah dirilis dalam bentuk buku. Buku itu berjudul 'Ada Cowok, Ada Bunga Merah, Ada Wine, Ada Sebuah Senyum'.

Sekitar 300 puisi karya wartawan senior itu terdapat di dalam buku tersebut. Puisi-puisi itu ditulis Remy dari tahun 1978 hingga terakhir tahun 2011.

"Puisi Remy buat kami adalah warisan yang paling romantik yang ditinggalkan Remy buat kami semua. Sebelum dia meninggal, dia memang berencana ingin membuat album buku puisi ini," ucap istri almarhum Remy, Ayum Soetansyah saat ditemui di Galeri Nasional Indonesia, Kamis (28/2/2013) malam.

Artis pecinta dunia puisi dan teater, Cornelia Agatha berharap dengan adanya buku itu karya-karya Remy tetap bisa dikenang. Ia pun merasa bangga bisa membawakan puisi-puisi karya almarhum.

"Ada kebahagian tersendiri bawain puisi dia. Karyanya legend. Semoga dengan adanya peluncuran puisi-puisi dia karyanya bisa dikenal banyak orang dan terus dikenang oleh banyak orang," katanya.

Remy berpulang ke hadapan Yang Maha Kuasa pada 30 Oktober 2012.

Puisi Jalan Yang Tak Bercelah | Pratiwi Purnama Sari

0 comments

Jalan Yang Tak Bercelah
Pratiwi Purnama Sari

Kala hati tak lagi bisa mengecup kepedihan
Sang raja bayangan menjadi nyata
Untuk hati yang tak memiliki tuan
Untuk mata yang tak ada jalan

Kenyataan hanyalah sebuah ilusi
Ilusi hanyalah sebuah bayangan
Bayangan yang menutupi kesucian jiwa
Yang tak sanggup terbang untuk kepedihan
Sebuah rantai untuk kesadaran
Yang dibelenggu di jalan yang tak bercelah

24 Februari 2013


Puisi Dalam Keasaan | Pratiwi Purnama Sari

0 comments

Dalam Keasaan
Pratiwi Purnama Sari

saat kesucian direnggut kegelapan
kala sayap tak mampulagi membawa tubuh terbang
apa guna raga ini ?
apa perlu aku masih berharap dalam keasaan
harapan yang hilang bersama rinai embun
harapan yang lenyap bersama kegelapan

24 Februari 2013


Puisi Sahabat Bagi Hati | Sang Pencinta Penari Aksara

0 comments

SaHaBaT BaGi HaTi
SaNG PeNCiNTa PeNaRi aKSaRa

BeGiTu BaNYaK CeRiTa YaNG TeLaH KiTa ReNDa
LeWaT TaRiaN aKSaRa LuKiSKaN SuaSaNa JiWa
SaaT KiTa TeRJaGa
DaLaM DuNia YaNG TaK NYaTa

BeGiTu BaNYaK KiSaH YaNG TeLaH KiTa BaGi
LeWaT JaRi JeMaRi CeRiTaKaN SuaSaNa HaTi
DaRi BeNDeRaNG HaDiRKaN PaGi
HiNGGa MaLaM DiuJuNG SuNYi

BeRSaMa SeGeNaP aKSaRa
KuSiNGGaHi SeTiaP PeLaTaRaN KaTa
aDa YaNG SeDaNG MeNaRiKaN KaTa DeNGaN PeNuH BaHaGia
aDaPuLa YaNG SeDaNG MeNDaNSaKaN KaTa DeNGaN PeNuH LuKa DaN aiRMaTa

KuLiHaT LuKa DiMaNa MaNa
SePeRTi TeRGuRaT DaLaM TiaP aKSaRa PaRa KoRBaN KeKaSiH YaNG DuRJaNa
HaTi KeCiLKu BiSa MeRaSaKaN PeRiHNYa
JeRiTaN PiLu DaRi MeReKa YaNG SeDaNG MeRaNa

KuDaTaNG SeBaGai SaHaBaT BaGi HaTi
YaNG iNGiN BeRBaGi TeNTaNG PeNDeRiTaaN NuRaNi
YaNG TaK LeLaH MeNDeNGaR RiNTiHaN SaNuBaRi
aGaR TeRoBaTi LuKa SeKePiNG HaTi YaNG TeLaH SeKiaN LaMa MeNDeRiTa PeRiH DaN NYeRi

MaRi KiTa BuKa MaTa KiTa BuKa HaTi
TiaDa DuKa DaN LuKa YaNG aBaDi
KaReNa DaLaM CiNTa JuGa aDa YaNG DaTaNG aDa YaNG PeRGi
SeMua aKaN iNDaH PaDa SaaTNYa NaNTi

JaNGaN LaGi MeRaJaM HaTi WaLau MaSiH TeRaSa LuKa DiSaNuBaRi
JaNGaN LaGi MeNaHaN NYeRi KaReNa LuKa CiNTaPuN BiSa DioBaTi
DaRiPaDa MeNYiKSa DiRi LeBiH BaiK KiTa BeRBaGi
BeRBaGiLaH BeRSaMa aKu DaN MeReKa SaHaBaT BaGi HaTi

7 FeBRuaRi 2013


Puisi Sang Pencinta Jelajahi Maya

0 comments

SaNG PeNCiNTa JeLaJaHi MaYa
SaNG PeNCiNTa PeNaRi aKSaRa

BeRSaMa SaNG MaLaM KuJeLaJaHi DuNia MaYa
KuSiNGGaHi SaTu PeRSaTu PeLaTaRaN KaTa FaCeBooK MaNia
aDa YaNG LaGi BeRBaHaGia aDa YaNG LaGi MeRaNa
KaLa MeReKa KiSaHKaN CiNTa YaNG PeNuH PeSoNa

JeLaJaHKu TeRHeNTi PaDa SaLaH SaTu PeLaTaRaN KaTa
”BaGaiMaNa RaSaNYa JaTuH CiNTa” TaNYaKu PaDa YaNG LaGi BeRBaHaGia
“RaSaNYa DuNia iNi MiLiK KaMi BeRDua” JaWaBNYa CeRia
”aKu DaN YaNG LaiN NTaR TiNGGaL DiMaNa” CeLoTeHKu TaK SeNGaJa
”KaLiaN BoLeH NuMPaNG KoK PaDa KaMi” JaWaBNYa DeNGaN SuaRa MaNJa
JeLaJaHKu BeRLaNJuT SaMBiL BeRDeNDaNG LiRiH “iNDaHNYa CiNTa”

TaK TeRaSa aKu DaN SaNG MaLaM SaMPai DiBeRaNDa MaYa
SaLaH SaTu DaRi MeReKa MeLeMPaR KaTa PeNuH TaNYa
“MeNGaPa aDa DeRiTa BiLa BaHaGia TeRCiPTa WaHai PeNaRi PeNa”
SaMBiL BeRLaLu TaNPa SeNGaJa MuLuTKu MeNaRi KaTa SePeRTi TaNPa MaKNa
”MuNGKiN iTu SaLaH SaTu uJiaN CiNTa DaN aKaN iNDaH PaDa WaKTuNNYa”

DiSaaT aKu DaN SaNG MaLaM BeRJaLaN PuLaNG
SaMaR SaMaR DaRi KeJauHaN KaMi MeNDeNGaR TeRiaKaN
” Wooi..SaNG PeNCiNTa..JaWaB TaNYaKu SeBeLuM Kau PuLaNG “
TeRiaKaNNYa BeRGeMa DaRi KeJauHaN
”KaTaMu CiNTa SaLaH SaTu KeaJaiBaN KeHiDuPaN
MeNGaPa CinTa DiKeLiLiNGi LauTaN PeNDeRiTaaN
SeDaNGKaN CiNTa YaNG SeSuNGGuHNYa aDaLaH DuNia KaSiH SaYaNG”

TaNPa PiKiR PaNJaNG KuLoNTaRKaN JaWaBaN
”BeNaR KaWaN,KeaJaiBaN CiNTa TeLaH TeRBuKTiKaN
PeNDeRiTaaN iTu JaLaN TeRiNDaH PaLiNG MeLeLaHKaN MeNuJu KeBaHaGiaaN
LiHaTLaH KeNYaTaaN
BeRaWaL DaRi CiNTa TeRJaLiNLaH KiSaH KaSiH aSMaRa SePaSaNG iNSaN
PuNCaK KeBaHaGiaaN MeNJaDiKaN SePaSaNG iNSaN RaJa DaN RaTu Di SiNGGaSaNa PeRNiKaHaN”

2 aGuSTuS 2012


Sunday, March 3, 2013

Puisi Lumpur "Lumpur Yang Menggusur Dengkur Tidur" | Eko Roesbiantono

0 comments

LUMPUR
Eko Roesbiantono

Sawah-sawah itu, ladang-ladang itu, rumah-rumah itu, kampung halaman itu,
terhampar lagi dalam ingatan, tempat kami dilahirkan, hidup dan kembali
seperti nenek moyang kami yang gugur menghalau para penjajah.
Namun sekarang tanah itu tak ada lagi.

Asal mula adalah lumpur menyembur, lalu menggenangi sawah,
ladang, jalanan, kampung dan kuburan. Lumpur yang menggusur dengkur tidur.
O dari manakah lumpur itu menyembur? Apakah dari deru panas dada atau dubur?
Apa dari busuk keserakahan perut yang menyembur?

Kuburan yang tenggelam, bangkit dalam kenangan. Moyang kami dulu berjuang
melawan penjajah berhati lumpur. Kelak mungkin seseorang akan bercerita
sebuah legenda tentang terbentuknya sebuah telaga. Di dasarnya ada sawah,
rumah-rumah, sekolah, dan kuburan tempat nenek moyang mereka bermukim.

Sawah-sawah itu, ladang-ladang itu, rumah-rumah itu terhampar lagi
dalam ingatan
hanya dalam ingatan

Surabaya, 2008

Puisi Secangkir Kopi | Adi Nugroho

0 comments

Secangkir Kopi
Adi Nugroho

Tuangkan segelas kopi hitam,legam,juga malammalam. Taburkan beberapa butir gulagula, yang membuat kita gila sebab memilih bersama. Aduklah dengan perlahan seperti dulu aku mendekatimu, berhentilah disaat kau rasa cukup. Sebab gula tak patut larut seluruhnya, biarkan kita menengok kembali apa yang telah kita lakukan. Berbekaskah ia? begitu juga kita pada cinta, mengejar cinta tidak bisa selamanya, sampai kita larut habis, mati tak bersisa kita. Sebab cinta bermukim pada batasbatas yang tak mudah dilihat, rasakan ia dengan hati. Seperti mengaduk kopi yang kau rasa perlu sudahi dan tibalah waktu kau seduh di bibir gemburmu.

Ku aduk segelas kopi
bercampur ragu bertabur gula batu
kuaduk berputar dalam ruang waktu,
lalu
kehampaan ada dalam tiap putaran itu...
Gula melarut air memanis..
Terangkat sendok besi,memanja gelas kaca,
relung kaca yang kelindan
Mata air air mata yang sedusedan
larut dalam kedipan bersama gula

Secangkir kopi, merangkum elegi berbulirbulir pasir. kau hanya mengenal kopi pekat, yang sedianya kau pesan dan siapkan: lewat sandiwara kita dari meja makan ke meja makan. Dan kau bilang “Cinta kita bermula dari meja makan, yang sewaktuwaktu perlu kita singgahi untuk membicarakan aku, kau, dan cinta” sebab itu Kau pilihkan aku kopi hitam pekat, yang membuatku terjaga dan terikat padamu. Mata yang terjaga membaca buah ceri merah di bawah hidungmu.

Pada secangkir kopi, kita sepakati perjalanan hari. Pada segelas kopi yang ketas, kita berjanji bahwa semua selesai, ketika ada cinta. Pada deras panas gelas kopi, kita mencatat tentang halhal yang akan menjadi rahasia kenangan. Sebab hidup adalah memilah kenangan. Meski nanti, resah saat segalanya pergi dan tak kembali. Dan secangkir kopi, membuat kita terjaga pada cinta.

Tak perlu kita habiskan kopi
Sebab nanti
Kita akan kembali ke sini
Meski sekadar mengusap air mata yang tertumpah
Pada meja makan tua ini

Friday, March 1, 2013

Puisi Beranda Gerimis | Samsul

0 comments

Beranda Gerimis
Samsul

Di beranda gerimis, aku memaku pandang
Pada tiang-tiang basah yang ditelanjangi hari
Semua sepi, hanya riak riuh hujan sesekali terdengar, lalu hilang
Bayangmu yang dulu berlagak di tiang itu,
kini melebur dalam gerimis yang memasuki pori-pori waktu
Ah, masih kutunggu bayangmu setelah gerimis ini,
setelah mentari menggambarmu lagi

2013

Biografi Eko Roesbiantono

0 comments

Biografi Eko Roesbiantono

Eko Roesbiantono, alumni Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, lahir di Surabaya, 11 April 1967, menulis cerpen dan puisi, pada 1990-an beberapa puisinya antara lain dimuat di Suara Karya, Suara Pembaruan, Surabaya Post, Berita Nasional, Yogya Post, SKM Swadesi, Suara Muhammadiyah, Kolong Budaya, dan Duta Swedish Student Association. Juga dimuat dalam Antologi Puisi “Biarkan Kami Bermain” (Editor; Emha Ainun Nadjib, Balairung UGM, 1987), Antologi Puisi  “Hijrah” (Editor: Rachmat Djoko Pradopo, Shalahudin UGM, 1988).  “Antologi Puisi Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan 2010. Menjadi juara harapan II Lomba Cipta Puisi Darmaningsih Tahun 1990, dengan dewan juri: Dr Rahmat Djoko Pradopo, Dr Imran  T.  Abdullah, dan Dr Kuntowijoyo. Kini tinggal di Surabaya.

http://oase.kompas.com/read/2013/02/19/20482736/Puisi-puisi.Eko.Roesbiantono

Puisi Kenangan "Kenanglah Bahwa Kau Pernah Bersamaku" | Adi Nugroho

0 comments

Kenangan
Adi Nugroho

Kenanglah
Bahwa kau pernah bersamaku, pada detik yang kita sebut kemarin, pada rentang yang kita namai masa lalu. Jika akhirnya kini, entah sejak dulu ataukah sebelum kau bersamaku, aku tak memainkan detak lagi, kenanglah, setidaknya aku pernah menyebut namamu, sesekali di lamunanmu. Sebab, mengenang adalah langkah puisi paling indah dalam mencatat masa depan. Dan kenanglah, sepuas kau ingat, sebab melupakan adalah siasia.

Secawan air hujan aku tadahkan, seluas wajah kita dulu, di antara rintihrintih genting terbentur rintikrintik hujan di horizon. Aku tertawa dan menangis dalam satu langit, bernyanyi perihal masa silam

Kenanglah
dari rahim rindu yang gembur
masa depan yang tersumbat
lalu hadir di ujung lorong, menyambutmu pada sebuah malam dingin

langit yang hampa, terang perlahan hilang, di antara matahari dan bulan
aku datang berayun di sudut lentik bulu matamu, bersiap berjalan lewat poripori kulitmu yang membuka dan menutup malu. Hendak aku berlari ke serambi hatimu, yang ingin aku bersemayam di dalamnya setelah lama kosong tak bertuan. Kenanglah sepuas kau mengenang, sebab aku telah bernisan bersemayam pada serambi kamar hatimu.

Bila kehilangan adalah keramat
Biarkan kita saling hilang dan menyilang
dari kehilanganlah aku belajar mengenang
dan mengenang membawaku pada arti memiliki

aku tak pernah tahu kau akan kemana,
dari nirwana aku hanya bisa tersenyum melihat kau memetik kenangan

Puisi Alamat Berdarah | Eko Roesbiantono

0 comments

ALAMAT BERDARAH
Eko Roesbiantono

Laut telah larut
Siapa berangkat malam ini
lampu-lampu pelabuhan
menyimpan perih
rembulan begitu muram
pada layar-layar perahu
Siapa berangkat malam ini
Berlayar tanpa angin tanpa suara
ke laut tak di ketahui namanya

Laut telah larut
Siapa menikamkan jerit
palung sunyi hati
menggaris tanda di langit
Laut telah larut
terlalu gelap untuk menebak
sebuah pelabuhan
menetes di peta

”Aku bukan malin kundang!”
Jeritan itu memanjang
dan ditelan ombak lengang

Surabaya, 2013

Puisi Ketuban Jalang | Samsul

0 comments

Ketuban Jalang
Samsul

Ketuban ketumpah ketimpah
Dalam rahim jelata yang meronta
Sehabis mengulum janji
Ketuban ketimpah ketumpah
Bersimpah simpuh di kemauan diri
Setelah janji tak di tepati

2013

Puisi Nyanyian Meja Makan | Eko Roesbiantono

0 comments

NYANYIAN MEJA MAKAN
Eko Roesbiantono


Dengarlah rintih dari meja makan ini
fried chicken diantara saos tomat berdarah
Ayam berkeok-keok meneriakkan hidup
teraniaya dalam siksa mutasi gen dan aneka racun
Lihatlah yang kaukunyah-kunyah itu
Ah sebenarnya matamu meneteskan air mata
tapi mulutmu yang mengalir gairah liur tak peduli
Lihatlah raksasa bertaring mengaum

Surabaya, 2013

Puisi Kepada Laut | Adi Nugroho

0 comments

Kepada Laut
Adi Nugroho

perahu kecil, jala mungil, burungburung pelikan, senyapsenyap ikan, debur ombak, batu retak, aku dan mata kosong, menunggu: kepada laut.  Aku melamun saja, bertanya pada angin, darimana angan ini, yang ingin dari dingin basah asin laut kecup bunga siput, sejak kau berlayar ke arah yang tak pernah kudengar, tak ada kabar, dan aku terkapar. Kepada laut: Aku berdiri saja, melipir ke dermaga pinggir, aku mencari kerang tak karang, adakah dia melihat jejakmu yang tersapu para pembajak. Kepada laut: aku masih menunggu kebaikan hatimu, sebab arusmu menghanyutku ke pulau rindu. Kepada laut: aku hanyut

Kepada kamu, kepada laut, kepada kita yang kalut. Boleh aku berlaut menjemputmu? mengejar kau, yang membuatku larut di harihari kusut. Biar aku memelukmu lagi, dan merasakan keras debar dada ini. Kerna Debar adalah lagu yang menghantarku pada bisik, jejak, dan merah pipimu.  Seperti ombak dan deburnya, yang cepatnya pergi dan dekat kembali pada ujung jemari kaki. Itulah aku yang teguh, laut akan memperpendek keraguan. Cinta terbaik mestilah tak lama menuju janji mati. Dan kau pun segera tau, pada dada siapa harus bersandar

laut pasang malam larut
entah aku atau bayangku yang terlebih dulu sampai
kukirim dulu keinginanku
lewat nyanyian ombak, dan senja laut
ketahuilah: aku menjemputmu

dan kepada laut: jagalah dia di pelukanmu
sampai aku
hilang rindu

Puisi Di tengah Hujan | Adi Nugroho

0 comments

Di tengah Hujan
Adi Nugroho

Tubuhnya basah, kuyup dikukup hujan. Dan di seberang, seorang wanita masih berdiri pada tepian jalan. Tampak suntuk terkantuk, matanya sayu seperti pilas, dibelai angin dingin malam kota. Adakah yang dinanti? Rambutnya yang melambai, kisut awutawut disapuh buih. Wajahnya tampak sedih. Bagai menahan perih lukaduka

Hendak kemana ia? Rendarenda pakaian gugur dilipur. Seakan hujan adalah atap ketenangan. Seakan hujan, mereda kemarahan. Ia Menarinari tanpa ragu dalam ketukrintik hujan. Dari lalulalang lelah sampai kota basah, tak ada lagi yang bisa menyapanya. Sungguh penuh tanya, adakah rindu semadu menunggu hujan reda. Bila tak ada yang dirindukan, haruskah mencintai hujan. Berdiam diri hirau disapu hujan yang suaranya kian sengau. Senarai wajahnya yang lunglai menjadi jawab, hujan adalah kepasrahan. Hujan tak perlu dicintai, tapi menjadi milik orangoorang yang kadung disekap rindu. saat airmata mengucur, carilah hujan yang siap berbagi kerapuhan.

Wanita itu masih kaku, dan semakin lugu di basah kota, yang lekang dari lalulalang. Kau memang sendiri, tapi pada hujan kau bisa dapatkan hilang sepi. Begitu mungkin pikirmu, dari kebas tanganmu yang mengembang. Wajahmu tengadah pasrah pada awan. Berharap hujan terus datang. Bahwa hidup boleh hampa, tapi pada hujan kau meramu rasa. Kau mengembang senyum juga, dari rimbun bulir air. Kemana lagi harus merindu, saat tak ada yang ditunggu, kecuali pada hujan. Meskikah mengutuk hujan, bila rintikrintiknya melantunkan lagu kerinduan. Dan hujan tanpa kenangan, adalah sepi paling tepi.

Wanita itu pun hilang bersama hujan.
Pada genang jalan, senyummu mengembang tenang.

Penulis saat ini bergiat di Komunitas Langit Sastra dan Pendiri AADT. Bisa dihubungi  @ijonkmuhammad dan ijonkmuhammad.tumblr.com. Tulisannya banyak dimuat media massa. Buku pertamanya saat ini berjudul “Belajar Merawat Indonesia”.

Loading

Recent Posts

 

kumpulan karya Puisi | Copyright 2010 -1014 Karya Puisi |